Noktah Merah Jiwasraya, Masih Layak Beli Saham & Reksa Dana?

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
12 February 2020 07:16
Noktah Merah Jiwasraya, Masih Layak Beli Saham & Reksa Dana?

Jakarta, CNBC Indonesia - Investor pasar modal kini dihadapkan pada kondisi yang membikin suasana hati berdebar-debar. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kian mengetatkan aturan dan melakukan penertiban pasar modal terutama di industri reksa dana dan transaksi efek di sekuritas.

Pengetatan aturan yang sudah bergulir sejak 2018, ditambah pecahnya kasus investasi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan potential loss investasi milik PT Asabri (Persero) yang kemudian muncul belakangan, tentu membuat investor kembali berpikir untuk meneruskan investasinya di pasar saham dan reksa dana saham.

Bahkan, tidak sedikit nasabah reksa dana saham dan trader saham yang mulai memiliki ide untuk mencairkan seluruh portofolionya yang sedang memerah dan menukarnya dengan investasi emas dan pinjaman online (peer to peer lending) yang sedang happening, atau bahkan hanya di balik bantal.


Namun, jangan lupa bahwa saham-saham yang nyangkut karena tidak ada yang mau membeli, atau tergusur aksi jual yang tidak henti-hentinya sampai bersandar pada Rp 50 di pasar reguler, hanya terjadi pada segelintir saham.

Tidak ada yang bisa menyebut secara pasti saham-saham yang diindikasi terkait dengan Jiwasraya-Asabri, tetapi tentu banyak di antaranya merupakan bagian dari saham-saham yang sudah bersandar di Rp 50, yang hari ini sudah ada 71 saham.


Jumlah saham berstatus 'gocap' itu sudah bertambah dari 69 saham pada akhir Januari, 53 saham pada akhir 2019, dan dari 31 saham pada akhir 2018.

Meskipun bertambah banyak, jumlah itu hanya berporsi kecil atau tepatnya hanya 10,47% dari total 677 saham yang tercatat di bursa.

Jangan lupa bahwa investasi jangka panjang tentu harus dibarengi dengan kesabaran lebih karena harus ingat tujuan yang tidak serta merta dalam waktu pendek. Namun, jika tidak puas, silahkan dihukum dengan cara menjual produk terkait dan membeli produk yang lain.

Reksa dana juga demikian. Meskipun ada yang terkena penertiban Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan sedang bermasalah di Kejaksaan Agung karena terkait masalah Jiwasraya, sebagian besar reksa dana tersebut bukanlah reksa dana publik dan hanya dimiliki investor strategis.

Selain tidak dijual bebas, masih banyak reksa dana dan manajer investasi dengan kinerja positif.

Data salah satu agen penjual reksa dana menunjukkan masih ada 27 manajer investasi yang mampu menambah dana kelolaan reksa dananya pada periode Januari, meskipun pasar saham yang diwakili Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 5,7% pada periode tersebut.

Manajer Investasi

Selisih Des-Jan (Rp miliar)

Sucorinvest Asset Management, PT

1,161

Danareksa Investment Management, PT

874

Mandiri Manajemen Investasi, PT

838

Bahana TCW Investment Management, PT

781

BNI Asset Management, PT

773

Sinarmas Asset Management, PT

598

Trimegah Asset Management, PT

584

Principal Asset Management, PT

366

Eastspring Investments Indonesia, PT

277

BNP Paribas Asset Management, PT

256

Sumber: Diolah


Tertinggi, manajer investasi yang mampu menambah dana kelolaan sepanjang bulan pertama 2020 adalah PT Sucorinvest Asset Management senilai Rp 1,16 triliun menjadi Rp 11,25 triliun dari Rp 10,09 triliun. Kenaikan itu kembali memantapkan posisi Sucorinvest di urutan ke-17 di industri reksa dana dari total 88 perusahaan yang sudah mengelola reksa dana.

Di bawah Sucorinvest, selanjutnya ada PT Danareksa Investment Management Rp 874,22 miliar, PT Mandiri Manajemen Investasi sebesar Rp 838,3 miliar, PT Bahana TCW Investment Management Rp 781,19 miliar, dan PT BNI Asset Management Rp 773,36 miliar.

Manajer Investasi

Dana Kelolaan (Rp miliar)

Batavia Prosperindo Aset Manajemen, PT

47,318

Mandiri Manajemen Investasi, PT

45,821

Bahana TCW Investment Management, PT

41,747

Schroder Investment Management Indonesia, PT

38,411

Manulife Aset Manajemen Indonesia, PT

29,879

Danareksa Investment Management, PT

23,563

Sinarmas Asset Management, PT

23,091

BNI Asset Management, PT

21,063

Eastspring Investments Indonesia, PT

20,895

Syailendra Capital, PT

20,646

Trimegah Asset Management, PT

19,584

BNP Paribas Asset Management, PT

18,810

Insight Investments Management, PT

17,173

Ashmore Asset Management Indonesia, PT

15,055

Panin Asset Management, PT

12,200

Samuel Aset Manajemen, PT

11,729

Sucorinvest Asset Management, PT

11,257

Maybank Asset Management, PT

9,565

Principal Asset Management, PT

9,502

Indo Premier Investment Management, PT

8,463

Sumber: Diolah


Meskipun badai masih belum berlalu, siapapun yang aman atau relatif tidak habis terhempas angin dan ombak cobaan nantinya diyakini akan menjadi semakin kokoh karena menjadi prestasi tersendiri setelah melewati seleksi alam yang tidak mudah.

Bagi yang tidak terseret-seret, entah karena tidak pernah berani masuk ke saham gorengan atau tidak sempat memelihara (nurturing) saham tertentu dan masuk ke area abu-abu di pasar modal, maka selamatnya dia bisa jadi merupakan prestasi ataupun keunggulan dari status quo.

Untuk investor reksa dana saham dan saham serta trader saham, jeli melihat instrumen, produk, dan fundamental perusahaan, serta rutin mengevaluasi portofolio menjadi hal yang mutlak dilakukan.


Jangan langsung menjual reksa dana Anda tanpa melihat kembali kinerjanya dalam periode minimal setahun terakhir, dan dapat melihat kinerjanya ada di bawah pasar saham atau justru melampaui pesaing-pesaingnya.

Terapkan strategi investasi berkala sehingga bisa mendapatkan momentum membeli di harga rendah ketika pasar koreksi dan memiliki nilai portofolio tinggi ketika harga sedang tinggi.

Bagi investor, meskipun saham dan reksa dana saham paling disoroti saat ini, ingat kembali bahwa tidak mungkin berinvestasi jangka panjang tanpa adanya instrumen ekuitas. Hal itu disebabkan horizon investasi yang panjang pasti akan menunjukkan risiko jangka panjang sekaligus return-nya di pasar modal hanya dapat diberikan oleh efek saham.

Marsangap P. Tamba, Direktur Utama Danareksa Investment mengatakan investor yang memiliki tujuan mendapatkan keuntungan secara jangka panjang maka perlu menempatkan investasi pada instrumen investasi berbasis ekuitas, nama lain dari saham.

Karakter 'pertumbuhan' itu tentunya akan berasal dari negara yang posisinya masih berkembang, dan Indonesia dinilai Marsangap merupakan salah satu penyedia tema pertumbuhan tersebut.

"Kalau tidak investasi saham di negara dengan pertumbuhan yang besar, maka akan ketinggalan (investasinya)," ujarnya. Dia juga menilai badai reksa dana sekarang ini terlalu cepat dinyatakan sebagai sistemik karena yang terdampak pun hanya sebagian kecil dari seluruh reksa dana dan manajer investasi.

Jangan berinvestasi pada saham yang kenaikan harganya menakjubkan tanpa adanya fundamental yang dapat diukur melalui kinerja keuangan yang mengiringinya. 

Seorang kawan di industri reksa dana pernah menyampaikan kembali sebuah pepatah kuno di pasar, "Jika ada kenaikan harga saham yang terlalu tinggi tanpa dibarengi kinerja yang seiring, niscaya akan ada pihak yang dirugikan di sana."


Selamat berinvestasi!


TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(irv/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading