Produsen CPO Cemas, Corona Bikin Permintaan dari China Drop

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
11 February 2020 10:15
Serangan virus corona berpotensi membuat permintaan CPO dari China, yang merupakan pasar terbesar, turun tajam.
Jakarta, CNBC Indonesia - Produsen minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) domestik mulai resah. Serangan virus corona berpotensi membuat permintaan CPO dari China, yang merupakan pasar terbesar dunia, turun tajam.

Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kanya Lakshmi Sidarta mengatakan jika dalam 3 bulan virus corona tidak tertangani maka akan berdampak serius terhadap industri sawit Indonesia.

"Kalau dalam terus-terusan dalam tiga bulan, saya ga tahu deh. Memang ada pergeseran (pasar). Tadinya ke China geser ke negara lain. Tetapi ini tidak bisa seterusnya. China, India dan Eropa masih merupakan pasar terbesar. Kalau pengiriman ke China terganggu, dampaknya akan sebesar yang selama ini kita berdagang dengan China," ujar Lakshmi, saat wawancara dengan CNBC Indonesia, Selasa (11/2/2020).



Laksmi menjelaskan, gangguan ekspor ke China tersebut, akan membuat dampaknya sama seperti saat CPO asal Indonesia tidak diserap pasar Eropa.

"Jadi sekarang di Indonesia, untuk sawit ada dua isu, yaitu ke Eropa dan China," tambah Lakshmi.

Menurut data Gapki ekspor CPO dan produk turunannya sepanjang 2019 mencapai 36,17 juta ton. China menjadi pasar ekspor terbesar sebanyak 6 juta ton (di luar produk oleokimia dan biodiesel).

Selain China, ekspor CPO terbesar kedua ke India sebesar 4,8 juta ton dan Uni Eropa 4,6 juta ton. Khusus untuk produk oleokimia dan biodiesel, ekspor terbesar adalah ke China 825 ribu ton, diikuti oleh Uni Eropa 513 ribu ton.

Sementara itu, ekspor minyak sawit ke Afrika mencapai 2,9 juta ton pada 2019, naik 11% dari 2,6 juta ton pada 2018.

Lakshmi memperkirakan produsen CPO akan memangkas target tahun ini karena serangan virus tersebut. "China tahun lalu yang terbesar, sebelumnya india. Memang ada kondisi yang membuat kita menurunkan target," jelas Laksmi.

Serangan virus corana hingga hari ini sudah memakan korban 1.011 orang tewas. Ini terjadi setelah provinsi Hubei, pusat virus corona berada, melaporkan 103 kematian baru.

Dalam laporan hariannya, Komisi Kesehatan Hubei juga mengkonfirmasi 2.097 kasus baru di provinsi tersebut. Akibatnya, saat ini total kasus yang disebabkan virus mirip SARS itu mencapai lebih dari 42.200 kasus di China saja.

Ini menjadi sentimen negatif bagi industri kelapa sawit nasional. Hal tersebut tercermin dari penurunan indeks sektor agribisnis di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang turun hingga 13,17%, yang merupakan koreksi indeks sektoral terbesar.

(hps/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading