Diterpa Aksi Jual Investor Asing, IHSG Melemah 0,17%

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
17 January 2020 12:25
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan terakhir di pekan ini, Jumat (17/1/2020), di zona hijau.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG menguat 0,12% ke level 6.293,78. IHSG kemudian terus memperlebar penguatannya. Titik tertinggi IHSG pada hari ini berada di level 6.301,49, mengimplikasikan apresiasi sebesar 0,25% jika dibandingkan dengan posisi pada penutupan perdagangan kemarin, Kamis (16/1/2020).

Namun, IHSG kemudian bergerak ke zona merah. Per akhir sesi satu, IHSG melemah 0,17% ke level 6.275,66.


Saham-saham yang berkontribusi signifikan dalam menekan kinerja IHSG di antaranya: PT Pollux Properti Indonesia Tbk/POLL (-9,28%), PT Astra International Tbk/ASII (-1,4%), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk/TLKM (-0,78%), PT Barito Pacific Tbk/BRPT (-2,31%), dan PT Kalbe Farma Tbk/KLBF (-1,2%).

IHSG melemah kala mayoritas bursa saham utama kawasan Asia justru sedang melaju di zona hijau. Hingga berita ini diturunkan, indeks Nikkei terapresiasi 0,47%, indeks Shanghai menguat 0,09%, dan indeks Kospi naik 0,2%.

Bursa saham Asia berhasil mengekor bursa saham AS alias Wall Street yang mencetak rekor pada perdagangan kemarin. Pada penutupan perdagangan kemarin, indeks Dow Jones naik 0,92%, indeks S&P 500 menguat 0,84%, dan indeks Nasdaq Composite terapresiasi 1,06%. Ketiga indeks saham acuan di AS tersebut ditutup di level tertinggi sepanjang masa.

Formalisasi kesepakatan dagang tahap satu antara AS dan China masih menjadi sentimen positif yang memantik aksi beli di bursa saham AS. Pada hari Rabu waktu setempat (15/1/2020), AS dan China menandatangani kesepakatan dagang tahap satu di Gedung Putih, AS.

Dari pihak AS, penandatanganan dilakukan langsung oleh Presiden Donald Trump, sementara pihak China mengirim Wakil Perdana Menteri Liu He.

Sesuati dengan yang diumumkan oleh Trump pada bulan Desember, melalui kesepakatan dagang tahap satu AS akan memangkas bea masuk sebesar 15% terhadap produk impor asal China senilai US$ 120 miliar menjadi setengahnya atau 7,5%.

Sebelumnya, AS telah membatalkan rencana untuk mengenakan bea masuk tambahan terhadap produk impor asal China pada tanggal 15 Desember. Untuk diketahui, nilai produk impor asal China yang akan terdampak oleh kebijakan ini sejatinya mencapai US$ 160 miliar.

Lebih lanjut, kesepakatan dagang tahap satu antara AS dan China memasukkan komitmen dari China untuk membeli produk asal AS senilai US$ 200 miliar dalam kurun waktu dua tahun.

Kemudian, kesepakatan dagang tahap satu AS-China juga akan membereskan komplain dari AS terkait pencurian hak kekayaan intelektual dan transfer teknologi secara paksa yang sering dialami oleh perusahaan-perusahaan asal Negeri Paman Sam.

Sentimen positif bagi bursa saham Asia juga datang dari rilis data pertumbuhan ekonomi China. Sepanjang tiga bulan terakhir tahun 2019, perekonomian China tercatat tumbuh sebesar 6% secara tahunan, sesuai dengan konsensus yang dihimpun oleh Reuters. Untuk keseluruhan tahun 2019, perekonomian Negeri Panda tumbuh sebesar 6,1%, juga sesuai dengan estimasi.

Sejauh ini, China masih merupakan negara dengan nilai perekonomian terbesar kedua di dunia. Jika perekonomian China tumbuh relatif tinggi, tentu pertumbuhan perekonomian dunia juga akan berada di level yang relatif tinggi.
Investor Asing Masih Sibuk Jualan
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading