Harga Batu Bara Naik Signifikan Kemarin, Tanda Kebangkitan?

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
10 January 2020 11:04
Harga batu bara naik signifikan kemarin setelah aktivitas industri China merangkak naik tercermin dari data bulan November 2019
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga komoditas batu bara kontrak mengalami kenaikan cukup signifikan pada perdagangan kemarin. Setelah bergerak flat di awal tahun, akhirnya harga mengalami kenaikan yang signifikan.

Kamis (9/1/2020), harga komoditas batu bara kontrak ICE Newcastle mengalami kenaikan sebesar 3,46% dibanding posisi penutupan perdagangan sehari sebelumnya. Harga batu bara menyentuh level US$ 71,8/ton.

Memang setelah akhir tahun, aktivitas perdagangan terutama komoditas batu bara belum pulih benar. Hal ini tercermin dari aktivitas pengiriman jalur laut yang diindikasikan dengan menurunnya permintaan terhadap kapal tanker yang mengangkut komoditas batu bara.


Indeks Baltic Capesize yang mengukur aktivitas perdagangan batu bara maupun bijih pesi menggunakan tanker dengan kapasitas muatan 170.000-180.000 ton masih turun. Kemarin, Indeks Baltic Capesize berada di posisi 1.155 turun 42 poin atau 3,5% dibanding periode sebelumnya.

Namun salah satu faktor yang mendukung harga batu bara naik kemarin adalah penipisan stok batu bara di pelabuhan maupun unit pembangkit listrik di China.

Berdasarkan data Refinitiv, persediaan batu bara di pelabuhan utama China bagian utara yaitu Caofeidian, Qinhuagndao dan Jingtang berada di posisi 15,41 juta ton per 3 Januari 2020. Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 16,57 juta ton.

Sektor industri China yang mulai merangkak naik jadi sentimen positif untuk harga batu bara. Data Industrial Production China bulan November 2019 menunjukkan pertumbuhan di angka 6,2% (yoy) jauh melebihi konsensus yang meramal kenaikan hanya 5% saja.

Dengan peningkatan aktivitas industri di China maka konsumsi batu bara berpotensi naik di saat persediaan batu bara China mulai menipis.

Konsumsi batu bara global masih akan ditopang oleh Asia terutama dari China, India dan Vietnam. Sementara konsumsi batu bara Eropa dan AS akan terus turun, konsisten dengan upaya mereka untuk menurunkan carbon footprint penyebab perubahan iklim. IEA meramal permintaan batu bara masih cenderung stabil hingga 2024.



TIM RISET CNBC INDONESIA

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading