Lawan Rupiah, Ringgit Sempat Perkasa Tapi Loyo Lagi

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
03 January 2020 11:48
Nilai tukar ringgit Malaysia naik tajam di penghujung tahun 2019. Sementara di awal 2020 pergerakannya menjadi lebih stabil.
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar ringgit Malaysia naik tajam di penghujung tahun 2019. Sementara di awal 2020 pergerakannya menjadi lebih stabil.

Pada perdagangan Selasa (31/12/2019), nilai tukar ringgit sempat melesat 9,7% ke level Rp 3.411,09/MYR yang merupakan level tertinggi sejak 21 Agustus, berdasarkan data Refinitiv. Tetapi penguatan tersebut berhasil terpangkas hingga tersisa 0,11% di level Rp 3.391,98/MYR.

Sementara dua hari terakhir pergerakan mata uang Negeri Jiran ini tidak terlalu besar lagi. Kamis kemarin, menguat 0,08% sementara pada hari ini, Jumat (3/1/2020) melemah tipis 0,05% ke level Rp 3.393,07/MYR.


Penguatan tajam ringgit pada perdagangan terakhir 2019 tersebut dipicu stimulus moneter yang digelontorkan bank sentral China (People's Bank of China/PBoC) dengan menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 50 basis poin (bps) berlaku mulai 6 Januari.

Kebijakan ini membuat likuiditas perbankan akan lebih gemuk. PBoC memperkirakan akan ada tambahan likuiditas sebesar CNY 800 miliar (Rp 1.595,07 triliun dengan kurs saat ini) yang bisa dimanfaatkan untuk penyaluran kredit sehingga diharapkan dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi. 

Stimulus moneter dari PBoC diharapkan dapat memacu pertumbuhan ekonomi Negeri Tiongkok yang dapat berdampak positif bagi Malaysia. Kedua negara memiliki hubungan dagang yang dekat.


"Ini (stimulus moneter China) dapat berdampak positif bagi ringgit melihat hubungan dagang Malaysia dengan China yang dekat serta meningkatkan aliran perdagangan regional jika kebijakan tersebut mampu mendorong sektor riil China" kata Stephen Innes kepala strategi pasar Asia di AxiTrader sebagaimana dilansir malaymail.com.



Sementara pada hari ini, sentimen pelaku pasar yang tiba-tiba memburuk membuat ringgit melemah tipis melawan rupiah. Kemungkinan terjadinya perang di Timur Tengah menjadi penyebab memburuknya sentiment pelaku pasar. Hal ini bermula saat Kedutaan Amerika Serikat (AS) di Irak mendapat serangan pada Selasa (31/12/2019) yang membuat Presiden Donald Trump geram.

Iran dituduh ada di balik serangan tersebut, dan AS siap membalas. Pada hari ini, Jendral Pasukan Elit Iran dilaporkan Tewas dalam sebuah serangan udara di Baghdad.

CNBC International mewartakan dalam serangan udara di Baghdad Jenderal Pasukan Elit Iran, Qassim Soleimani tewas dalam serangan udara bersama dengan wakil komandan milisi Iran atau yang dikenal dengan Popular Mobilization Forces (PMF). PMF menyatakan AS ada dibalik serangan tersebut.

Tewasnya dua tokoh penting Iran tersebut dikabarkan dapat membuat situasi di Timur Tengah semakin panas, Iran dan PMF kemungkinan akan membalas AS dan Israel.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading