Trump Kena Impeachment, Rupiah Langsung Terlemah di Asia!

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
19 December 2019 10:12
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mampu menguat di kurs tengah BI. Namun di pasar spot, rupiah kini mulai ajeg melemah.
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mampu menguat di kurs tengah Bank Indonesia (BI). Namun di pasar spot, rupiah yang dibuka stagnan kini mulai ajeg melemah.

Pada Kamis (19/12/2019), kurs tengah BI atau kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate/Jisdor berada di Rp 13.983. Rupiah menguat 0,17% dibandingkan posisi sehari sebelumnya.

Seperti di kurs acuan, rupiah juga merah di pasar spot. Pada pukul 10:00 WIB, US$ 1 setara dengan Rp 13.980 di mana rupiah melemah 0,07%.


Kala pembukaan pasar, rupiah masih stagnan di Rp 13.970/US$. Namun selepas itu rupiah bergerak ke selatan dan sepertinya mulai 'nyaman' di zona merah meski pelemahannya tipis saja.


Dari dalam negeri, setidaknya ada tiga faktor yang menjadi beban bagi langkah rupiah. Pertama, mata uang Tanah Air rawan terserang profit taking karena sudah menguat lumayan signifikan.

Dalam sebulan terakhir, rupiah masih menguat 0,75% di hadapan greenback. Secara year-to-date, penguatan rupiah lebih sangar lagi yaitu 3,15%.

Ini tentu menggoda investor untuk mencairkan keuntungan. Cuan besar yang didapat dari rupiah suatu saat pasti akan direalisasikan, dan itu sepertinya terjadi sekarang.

Kedua, jelang akhir tahun kebutuhan valas korporasi sedang tinggi untuk pembayaran kewajiban dividen, utang jatuh tempo, impor dan sebagainya. Rupiah mengalami tekanan jual sehingga nilainya melemah.

Ketiga, investor tengah menantikan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) edisi Desember 2019 yang hasilnya diumumkan pukul 14:00 WIB nanti. Pasar berekspektasi Gubernur Perry Warjiyo dan kolega mempertahankan suku bunga acuan di 5%.

Namun sebenarnya masih ada ruang bagi BI untuk menurunkan suku bunga acuan. Inflasi masih jinak, sampai akhir tahun diperkirakan hanya sekitar 3,1%. Selain itu, ada kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sehingga stimulus moneter lebih lanjut mungkin masih diperlukan.


Jadi sembari menunggu bagaimana hasil RDG BI, pelaku pasar pun menahan diri. Lebih baik tidak bermain agresif dulu sampai hasilnya bisa dipastikan.


Trump Sah Dimakzulkan!
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading