Dibuka Menguat Tipis, Straits Times Langsung Berbalik Merah

Market - Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
10 December 2019 08:38
Dibuka Menguat Tipis, Straits Times Langsung Berbalik Merah
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham utama Singapura menguat terbatas pada pembukaan perdagangan hari ini, Selasa (10/12/2019).

Indeks Straits Times (STI) dibuka naik tipis 0,09% menjadi 3.182,59 indeks poin. Namun, tak lama setelahnya STI berbalik arah dan mencatatkan pelemahan.

Data pasar menunjukkan dari 30 saham yang menghuni indeks acuan bursa saham Singapura tersebut, 5 saham yang mencatatkan kenaikan harga, 16 saham melemah, dan 9 saham tidak mencatatkan perubahan harga.


Sentimen yang menyelimuti pergerakan bursa saham acuan Negeri Singa masih seputar hubungan dagang Amerika Serikat (AS) dan China, serta rilis data ekonomi kedua negara dengan perekonomian terbesar di dunia tersebut.

Hari ini, China dijadwalkan akan mengumumkan tingkat inflasi dan indeks harga konsumen di bulan November, di mana ekonom berekspektasi bahwa laju inflasi Tiongkok akan lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini dikarenakan, China masih dihadapkan pada masalah pasokan babi.

Di lain pihak, pelaku pasar bersikap waspada setelah kemarin (9/12/2019) media Financial Times melaporkan Beijing menerapkan aturan untuk membatasi ketergantungan negara pada teknologi barat, di mana perusahaan teknologi milik Amerika Serikat (AS) yang akan terpukul termasuk Hp, Dell, dan Microsoft, seperti diwartakan CNBC International.

Larangan tersebut akan diberlakukan secara bertahap selama 3 tahun. Pada tahun 2020 sekitar 30% teknologi akan diganti, 50% di tahun 2021, dan 20% tahun 2022. Analis memperkirakan sekitar 20-30 juta unit teknologi buatan asing akan diganti dengan teknologi Made in China.

Seperti diketahui, sebelumnya pada awal tahun AS melarang perusahaan Amerika melakukan bisnis dengan perusahaan telekomunikasi China, Huawei. Google, Intel dan Qualcomm berhenti bekerja dengan raksasa teknologi ini.

Keputusan tersebut membuat Negeri Tiongkok naik pitan dan sempat menghambat negosiasi dagang kedua negara.

Meskipun demikian, terdapat kabar positif dari kedua negara. Informasi terbaru memberitakan bahwa China menginginkan untuk dapat segera menekan kesepakatan dagang fase pertama dengan AS. Asisten Menteri Perdagangan China Ren Hongbin mengatakan pihak Negeri Tiongkok menginginkan perjanjian damai dagang yang dapat memuaskan kedua negara.

"Mengenai pertanyaan terkait diskusi dan negosiasi dagang antara AS dan China, kami berharap kedua pihak, atas dasar kesetaraan dan saling menghormati, dapat mendorong maju negosiasi, dan dengan mempertimbangkan isu masing-masing, mencapai kesepakatan yang memuaskan semua pihak, sesegera mungkin," ujar Ren.

Kemudian, hari ini Bloomberg memberitakan Menteri Pertanian AS Sonny Perdue mengatakan bahwa Washington besar kemungkinan tidak akan mengenakan bea masuk pada produk impor China akhir pekan ini, dilansir dari CNBC International.

"Kami memiliki tenggat waktu yang akan datang pada 15 Desember untuk babak baru tarif, saya tidak percaya itu akan diberlakukan dan saya pikir kita mungkin melihat beberapa kemunduran," ujar Purdue.

Pada hari ini tidak ada rilis data ekonomi dari Singapura

TIM RISET CNBC INDONESIA (dwa/dwa)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading