Mau Transaksi? Yuk Simak Sederet Aksi Emiten ini

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
18 November 2019 08:57
Cermati aksi dan peristiwa emiten berikut ini yang dihimpun dalam pemberitaan CNBC Indonesia sebelum memulai perdagangan awal pekan ini, Senin (18/11/2019).
Jakarta, CNBC Indonesia - Akhir pekan lalu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat setelah mayoritas sepanjang minggu ditutup di zona merah. IHSG sukses menguat 0,48% menjadi 6.128,35 poin.


Performa IHSG senada dengan mayoritas bursa saham utama di kawasan Asia yang juga menguat. Indeks Kospi melesat 1,07%, indeks Nikkei menguat 0,7%, indeks Straits Times dan indeks Hang Seng masing-masing naik tipis 0,07% dan 0,01%. Hanya indeks Shanghai yang melemah 0,64%.

Cermati aksi dan peristiwa emiten berikut ini yang dihimpun dalam pemberitaan CNBC Indonesia sebelum memulai perdagangan awal pekan ini, Senin (18/11/2019):


1. Grab Rencanakan Opsi IPO, Akankah Dual Listing di BEI?

Co-founder sekaligus CEO Grab Anthony Tan mengatakan pihaknya siap go public atau melantai di bursa saham dengan melepas saham perdana atau initial public offering (IPO) setelah bisnisnya mencetak untung. Hanya saja belum diungkapkan bursa saham negara mana yang dituju.

Anthony mengatakan bahwa banyak unit Grab di beberapa negara akan keluar dari zona defisit dalam 12 bulan ke depan, alias sudah menghasilkan uang tahun ini.

"Begitu kita untung, maka kita dapat dengan jelas go public jika kita mau," ujar Anthony Tan seperti dikutip dari CNBC International, Jumat (15/11/2019).

Grab yang berbasis di Singapura, telah beroperasi di delapan negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Vietnam dan Thailand. Grab memiliki valuasi US$ 14 miliar atau setara dengan Rp 196 triliun (asumsi kurs Rp 14.000/US$) pada Maret 2019. Tahun lalu, Grab juga telah mengakuisisi bisnis Uber di Asia Tenggara dengan skema tukar guling.


2. Sumitomo Mitsui Semakin Berpeluang Caplok Bank Permata?


Peluang bank asal Jepang, Sumitomo Mitsui Financial Group Inc (SMBC) mengakuisisi PT Bank Permata Tbk (BNLI) kian besar. SMFG dikabarkan sedang dalam pembicaraan lanjutan untuk merundingkan persyaratan membeli saham Bank Permata. 


Memang, dari rumor yang beredar di sejak Oktober lalu, Sumitomo Mitsui bersama dua bank asal Singapura, DBS Group dan Oversea-Chinese Banking Corp (OCBC) menjadi tiga kandidat terkuat membeli saham Bank Permata, bank dengan nilai kapitalisasi pasar US$ 2,7 miliar atau setara Rp 31,97 triliun. 


Kantor berita Reuters menuliskan, meski ada pembicaraan lanjut mengenai rencana akuisisi tersebut, SMFG belum tentu mendapat hak istimewa membeli saham BNLI yang saat ini digenggam masing-masing sebanyak 45% oleh Grup Astra dan Standard Chartered Bank Plc (Stanchart) asal Inggris.

"Singapura OCBC Group Holdings dan DBS Group Holdings telah menunjukkan minat untuk membeli saham Bank Permata, mereka tidak lagi memaksanya," tulis Reuters Jumat (15/11/2019).

3. Cari Standby Buyer, Bukopin Rights Issue Semester I-2020

PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) berencana menggunakan buku Agustus ataupun Desember 2019, pada pelaksanaan penawaran umum terbatas alias rights issue. Perusahaan menargetkan rights issue ini bisa dilakukan pada semester I-2020.


Direktur Utama Bukopin Eko Rachmansyah Gindo mengatakan saat ini perusahaan tengah melakukan dua pendekatan, dan tengah membicarakannya dengan dewan komisaris. Perusahaan memiliki waktu satu tahun sejak RUPS, hingga Oktober 2020. Eko pun mengatakan masih belum bisa mengatakan pembeli siaga dari rights issue ini.

"Belum, memangnya gampang mencari standby buyer," kata Eko, Jumat (15/11/2019).

Dia menilai sebuah perusahaan tidak baik memiliki pemegang saham yang mendominasi, karena rentan dengan intervensi. "Kalau dikontrol sama 1-2 pemegang saham itu ga sehat bisa diintervensi, yang pentingkan perusahaan ini transparansi," katanya.


4. Ritel Lesu, Hypermart Tak Tambah Gerai di 2020

Emiten ritel pengelola Hypermart dan Foodmart, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) masih akan fokus melakukan efisiensi dengan tidak menambah gerai baru di tahun depan. Hal ini mempertimbangkan kondisi industri ritel yang masih melambat. 


Danny Kojongian, Sekretaris Perusahaan Matahari Putra Prima menjelaskan, efisiensi itu antara lain fokus mengelola biaya secara ketat, memaksimalkan gerai eksisting dan lebih selektif dalam memilih produk yang dijual kepada konsumen. 


"Kita lebih menahan diri membuka gerai baru, fokus pada efisiensi," ungkap Danny saat ditemui di Karawaci, Tangerang, Jumat (15/11/2019).

Perlambatan konsumsi rumah tangga terjadi pada triwulan ketiga 2019, di mana, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) hanya tumbuh 5,01% dari periode yang sama tahun lalu 5,17% secara tahunan. Dampaknya terasa pada penjualan bersih anak usaha Grup Lippo ini yang terkoreksi 19,8% pada kuartal III-2019 menjadi Rp 6,64 triliun dari tahun lalu Rp Rp 8,28 triliun.

5.Wamen BUMN: Progres Restrukturisasi KRAS Lumayan Positif!

Kementerian Badan Usaha Milik Negara menegaskan penyelamatan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) dari kondisi perusahaan yang 'berdarah-darah' melalui restrukturisasi utang diharapkan segera selesai. Dengan begitu diharapkan bisa membuat perusahaan mencetak kinerja positif kembali.


Wakil Menteri BUMN Budi Gunadi Sadikin mengatakan progres penyelamatan atas BUMN baja tersebut positif. Budi Gunadi adalah mantan Dirut PT Inalum atau MIND ID, holding BUMN pertambangan yang diagendakan menjadi induk usaha KRAS.

"Doain supaya restrukturisasi Krakatau Steel bisa cepat selesai. Nanti, sebentar lagi Pak Silmy [Dirut Krakatau Steel Silmy Karim] akan panggil teman-teman [jurnalis] menceritakan seperti apa," kata BGS, panggilan akrabnya, di Kementerian BUMN, Jumat (15/11/2019).


"Tapi progres [restrukturisasi] lumayan positif," kata Dirut Bank Mandiri periode 2013-2016 ini.

[Gambas:Video CNBC]


(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading