Internasional

Trump Tau Banyak Negara 'Buang Dolar', Ini yang Dilakukannya

Market - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
04 November 2019 13:39
Berbagai negara besar di dunia mulai dari Rusia, China, hingga Iran telah mencoba 'membuang' dolar alias melakukan de-dolarisasi.
Jakarta, CNBC Indonesia - Berbagai negara besar di dunia mulai dari Rusia, China, hingga Iran telah mencoba 'membuang' dolar alias melakukan de-dolarisasi. Hal ini dilakukan demi mengurangi ketergantungan mereka pada dolar.

Sebab, seperti yang disampaikan oleh Anne Korin, co-director di think tank energi dan keamanan dari Institute for Analysis of Global Security, ketika dolar AS digunakan atau transaksinya diselesaikan melalui bank Amerika, maka entitas harus tunduk pada yurisdiksi AS. Hal ini pun dianggap merugikan negara-negara itu.


"Negara-negara paling berpengaruh (major movers) seperti China, Rusia dan Uni Eropa memiliki motivasi yang kuat untuk melakukan de-dolarisasi," kata Korin, pekan lalu.


Pertanyaannya, apa yang bakal terjadi jika tidak ada negara di dunia ini selain AS yang menggunakan dolar sebagai mata uang? Apa yang bakal terjadi jika tidak ada lagi transaksi moneter internasional yang dikendalikan oleh bank-bank AS dan kegiatan ekonomi di bawah 'kendali' AS?

Menurut Peter Koenig, analis ekonomi dan geopolitik yang juga seorang spesialis sumber daya air dan lingkungan Bank Dunia dan Organisasi Kesehatan Dunia, mengatakan bahwa kemungkinan yang bisa terjadi adalah terciptanya dunia yang damai.

"Tentunya, jawaban singkatnya adalah bahwa kita pasti akan semakin dekat dengan perdamaian dunia, jauh dari hegemoni (keuangan) AS, menuju kedaulatan negara-negara bangsa, menuju struktur geopolitik dunia yang lebih setara," jelas pria yang juga mengajar di berbagai universitas di AS, Eropa dan Amerika Selatan itu dalam tulisannya yang dimuat di Global Research beberapa waktu lalu.


"Kita belum sampai di sana (de-dolarisasi). Tapi ketertarikan di seluruh negara menandakan bahwa kita bergerak cukup cepat ke arah itu," tambahnya.

Dalam tulisan itu, ia juga mengatakan Presiden AS Donald Trump menyadari dan mengetahui langkah de-dolarisasi dari negara-negara itu. Oleh karenanya Trump kerap kali menjatuhkan sanksi kepada berbagai negara.

"Dan Trump mengetahuinya dan staff-nya mengetahuinya. Itulah sebabnya berbagai serangan kejahatan dalam sektor keuangan seperti sanksi, perang perdagangan, penyitaan aset dan cadangan asing, atau pencurian, semuanya dilakukan atas nama 'Make America Great Again Again', bisa melaju secara eksponensial dan tanpa mendapat hukuman." jelasnya.

Namun, Koenig juga menjelaskan bahwa sanksi ekonomi, dalam bentuk apa pun, hanya bisa berlaku selama dunia menggunakan dolar AS untuk perdagangan dan sebagai mata uang cadangan.

"Begitu dunia sakit dan lelah dengan perintah Washington yang aneh dan skema sanksi bagi mereka yang tidak mau lagi mengikuti aturan AS yang menindas, mereka akan bersemangat untuk bergabung meninggalkan dolar dan menghargai mata uang mereka sendiri. Berarti perdagangan satu sama lain dilakukan dalam mata uang mereka sendiri..." katanya.

"Banyak negara juga menyadari bahwa dolar semakin berperan untuk memanipulasi nilai ekonomi mereka," tambahnya.

Namun begitu, Koenig mengatakan bahwa hal ini tidak mudah dilakukan mengingat besarnya pengaruh dolar dalam perekonomian negara lain. Tapi, hal ini tetap mungkin untuk terjadi, hanya saja memerlukan usaha dan banyak waktu.

"Tidak mudah (membuang dolar) dengan semua cadangan dan aset berdenominasi dolar yang diinvestasikan di luar negeri, di seluruh dunia," ujarnya.

"Sebuah solusi mungkin secara bertahap mendivestasikan mereka (likuiditas dan investasi dolar AS) dan pindah ke mata uang yang tidak tergantung pada dolar, seperti Yuan China dan Rubel Rusia, atau sekeranjang mata uang timur yang tidak terikat dengan dolar dan skema pembayaran internasionalnya, sistem SWIFT," jelasnya lagi.


[Gambas:Video CNBC]




(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading