Seru! Omzet Masih Lewati HMSP, Saham GGRM Melesat 2,19%

Market - Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
30 October 2019 12:58
GGRM masih mampu melewati kinerja omzet HMSP
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga saham emiten produsen rokok, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) naik hingga 2,19% ke level Rp 56.025/unit saham pada penutupan perdagangan sesi I Bursa Efek Indonesia (BEI).

Kenaikan harga saham perusahaan besar kemungkinan merupakan respons positif pelaku pasar atas kinerja 9 bulan pertama GGRM yang kembali mengungguli pesaing utamanya PT HM Sampoerna Tbk (HMSP).

Pada periode Januari-September 2019, total pendapatan GGRM tumbuh dua digit, yakni 16,93% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp 81,72 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 69,89 triliun.

Performa top line perusahaan lebih baik dibandingkan HMSP yang per akhir September 2019 hanya membukukan total pemasukan Rp 77,51 triliun, di mana nilai tersebut terkoreksi 0,04% YoY.


Tahun ini GGRM dapat menduduki posisi jawara emiten rokok dari segi omzet seiring dengan melesatnya pemasukan dari penjualan produk Sigaret Kretek Mesin (SKM) yang tercatat naik 18,63% secara tahunan menjadi Rp 74,9 triliun.

Sementara, produk Sigaret Kretek Tangan (SKT) perusahaan tumbuh cenderung stabil dengan naik 4,8% YoY menjadi Rp 5,8 triliun.

Kemudian, jika ditilik kinerja kuartalan, maka pendapatan kuartal III-2019 mencapai Rp 28,98 trilun atau tumbuh 9,15% dibandingkan kuartal sebelumnya dan naik 17,86% secara tahunan.

Lebih lanjut, meskipun kinerja top line GGRM dapat mengungguli HMSP, namun lain halnya dengan kinerja bottom line.

Dalam 9 bulan pertama tahun ini jumlah laba bersih yang diperoleh GGRM sebesar Rp 7,24 triliun, atau naik 25,7% dibanding tahun sebelumnya yang ada di Rp 5,76 triliun. Sayangnya, walau keuntungan perusahaan tumbuh dua digit, tapi masih kalah dengan perolehan laba bersih HMSP yang ada di Rp 10,2 triliun.

Begini Kinerja HMSP Kuartal III-2019
[Gambas:Video CNBC]


GGRM belum dapat mengejar ketertinggalan dari sisi pos laba bersih seiring dengan masih relatif tingginya pos pembiayaan utama perusahaan.

Ambil contoh pos beban pokok pendapatan yang per akhir September tercatat sebesar Rp 65,98 triliun atau setara 80,74% dari total pemasukan.

Sedangkan pada pos yang sama, rivalnya, HMSP, hanya membukukan rasio beban pokok pendapatan terhadap pemasukan sebesar 76,63%.

TIM RISET CNBC INDONEIA
(dwa/dwa)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading