AS-China Mesra, Bursa Saham Asia Kok Malah Melemah?

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
29 October 2019 17:31
Mayoritas bursa saham utama kawasan Asia menutup perdagangan kedua di pekan ini, Selasa (29/10/2019), di zona merah.

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas bursa saham utama kawasan Asia menutup perdagangan kedua di pekan ini, Selasa (29/10/2019), di zona merah.

Pada penutupan perdagangan, indeks Shanghai jatuh 0,87%, indeks Hang Seng melemah 0,39%, dan indeks Kospi terkoreksi 0,04%. Sementara itu, indeks Nikkei menguat 0,47% dan indeks Straits Times naik 0,36%.

Sentimen positif bagi bursa saham Benua Kuning datang dari kinerja Wall Street yang cemerlang pada perdagangan kemarin (28/10/2019). Pada penutupan perdagangan kemarin, indeks Dow Jones naik 0,49%, indeks S&P 500 menguat 0,56%, dan indeks Nasdaq Composite melejit 1,01%. Indeks S&P 500 mengakhiri hari di level 3.039,42 yang merupakan rekor penutupan tertinggi sepanjang masa. 


RIlis kinerja keuangan yang oke dari perusahaan-perusahaan yang melantai di bursa saham AS sukses memantik aksi beli. Mengutip CNBC International yang melansir data dari FactSet, dari sebanyak 206 perusahaan anggota indeks S&P 500 yang telah melaporkan kinerja keuangan kuartalan hingga Senin pagi waktu setempat, sebanyak 78% mampu mengalahkan estimasi dari para analis. 

AT&T dan Spotify termasuk ke dalam perusahaan yang kinerja keuangannya mampu mengalahkan estimasi dari para analis. Harga saham AT&T menguat lebih dari 4% pada perdagangan kemarin, sementara harga saham Spotify melesat 16,2%. 

Lebih lanjut, sentimen positif bagi bursa saham Asia datang dari perkembangan terkait negosiasi dagang AS-China yang menggembirakan. Pada hari Jumat waktu setempat (25/10/2019), Kantor Perwakilan Dagang AS melaporkan bahwa AS dan China telah dekat untuk memfinalisasi beberapa bagian dari kesepakatan dagang tahap satu antar kedua negara, seperti dilansir dari CNBC International.

Kantor Perwakilan Dagang AS melaporkan perkembangan tersebut pasca Kepala Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin melakukan pembicaraan via sambungan telepon dengan Wakil Perdana Menteri China Liu He.

"Mereka membuat kemajuan dalam beberapa isu dan kedua pihak telah dekat untuk memfinalisasi beberapa bagian dari kesepakatan," demikian dilaporkan oleh Kantor Perwakilan Dagang AS.

"Perbincangan akan berlanjut di level deputi, dan para negosiator tingkat tinggi akan kembali berbincang melalui sambungan telepon dalam waktu dekat."

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa dirinya optimistis kesepakatan dagang AS-China tahap satu akan bisa ditandatangani dalam gelaran KTT APEC di Chili pada 16-17 November mendatang. 

"Saya rasa itu (draf kesepakatan dagang) akan ditandatangani dengan cukup mudah, semoga saja pada saat KTT di Chili, di mana Presiden Xi dan saya akan berada," kata Trump di Gedung Putih.

"Kami bekerja dengan China dengan sangat baik," sambungnya menambahkan.

Untuk diketahui, kesepakatan dagang AS-China bisa menjadi kunci bagi kedua negara untuk menghindari yang namanya hard landing alias perlambatan pertumbuhan ekonomi yang signifikan.

Di sisi lain, rilis data ekonomi China yang mengecewakan menjadi sentimen negatif bagi bursa saham Asia. Pada hari Minggu (27/10/2019), laba perusahaan-perusahaan industri di China diumumkan jatuh sebesar 2,1% secara tahunan (year-on-year/YoY) untuk periode Januari-September 2019, lebih dalam ketimbang penurunan pada periode Januari-Agustus 2019 yang sebesar 1,7% YoY.

TIM RISET CNBC INDONESIA

Artikel Selanjutnya

Kinerja IHSG Terburuk Kedua di Bursa Asia


(ank/ank)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading