Sepekan Rupiah Berada di Posisi Ketiga Terlemah di Asia

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
19 October 2019 17:43
Rupiah sepekan ini berada dalam posisi salah satu terbawah di Asia.
Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah menduduki posisi tiga terbontot atau terlemah sebagai mata uang selama sepekan terakhir terhadap dolar AS, dari total 11 mata uang negara Asia. Pelemahan terjadi ketika dolar AS justru terkoreksi sehingga rupiah dan tiga negara lain tidak mampu memanfaatkan momentum pelemahan greenback, sebutan lain dolar AS.

Rupiah melemah 0,11% menjadi Rp 14.134 per dolar AS pada periode tersebut, berada di posisi ketiga dan di bawah dolar Australia serta rupee India yang koreksinya lebih besar yaitu masing-masing 1% dan 0,24%. Mata uang lain yang turut melemah sejak akhir pekan lalu adalah yen Jepang 0,02%, yang justru sering dimanfaatkan pelaku pasar keuangan global sebagai instrumen lindung nilai (hedging) dan bersifat instrumen aman (safe haven instrumen) ketika kontraksi terjadi.




Dari sisi yang menguat, tercatat tujuh mata uang Asia yang menguat terhadap dolar AS. Mata uang peso Filipina menguat 0,7% diikuti dolar Singapura, baht Thailand, won Korsel, dolar Taiwan, yuan China, dan dolar Hong Kong.

Pelemahan dolar AS tercermin dari Indeks Dolar AS yang melemah hingga 1,04% menjadi 97,28 dari 98,3 pada periode yang sama. Dollar Index, atau biasa disebut DXY dan USDX, merupakan refleksi posisi greenback terhadap enam mata uang negara utama lain yaitu euro, yen Jepang, poundsterling Inggris, dolar Kanada, krona Swedia, dan franc Swiss.



Pelemahan dolar terutama disebabkan meroketnya nilai tukar poundsterling Inggris 2,56% menjadi 1,29 dolar AS per pounds dari 1,26 dolar AS per pounds pada periode yang sama. Penguatan sterling, nama lain poundsterling, disebabkan arah positif dari perundingan Brexit, dipicu melunaknya pihak Inggris dan Uni Eropa dalam proses Brexit, di mana pintu probabilitas soft Brexit semakin terbuka.

Soft Brexit adalah kata lain dari lancarnya proses Inggris keluar dari Uni Eropa dengan kesepakatan-kesepakatan tertentu, yang kondisinya berbanding terbalik dengan hard Brexit di mana justru menjadi kekhawatiran pelaku pasar karena dapat menghantarkan Inggris ke gerbang resesi.

Hari ini, masih dijadwalkan pengambilan suara di Parlemen Inggris untuk menyetujui proposal Perdana Menteri Boris Johnson, yang akan menjadi kunci dari kelanjutan proses Brexit selanjutnya.



TIM RISET CNBC INDONESIA
(irv/irv)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading