Benarkah Jokowi Effect Basi? IHSG Sulit Naik Jelang Dilantik

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
16 October 2019 14:43
Bagi pasar saham, efek terpilihnya Joko Widodo (Jokowi) sebagai presiden bisa dibilang sudah agak 'basi'.

Jakarta, CNBC Indonesia -  Efek terpilihnya Joko Widodo (Jokowi) sebagai presiden tampaknya sudah mulai tak ada bagi pelaku pasar saham. Selepas gelaran pemilihan presiden (Pilpres) 2019, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru terbilang mengecewakan.

Sekedar mengingatkan, Pilpres pada tahun ini digelar berbarengan dengan pemilihan anggota legislatif, yakni pada 17 April 2019. Pada hari itu juga, hasil hitung cepat dari berbagai lembaga kompak memenangkan pasangan calon nomor urut 01 yakni Jokowi- Ma'ruf Amin.

Jika kita mundur ke Pilpres tahun 2014 yang digelar pada tanggal 9 Juli, IHSG membukukan apresiasi sebesar 1,46% sehari setelahnya (10 Juli 2014). Kenaikan pasar saham merespons kemenangan Jokowi dikenal dengan istilah Jokowi effect.


Jika dibandingkan dengan kinerja IHSG yang hanya naik tipis 0,4% pada tanggal 18 April 2019 (sehari setelah Pilpres 2019), di sini saja Jokowi effect bisa dibilang sudah agak 'basi'. 

Jika ditarik lebih jauh lagi, semakin terkonfirmasi bahwa Jokowi sudah agak 'basi' bagi pasar saham. Terhitung dalam 46 hari perdagangan di bursa saham tanah air pasca Pilpres 2019, IHSG membukukan koreksi sebesar 1,49%. Sementara itu, dalam 46 hari perdagangan pertama pasca Pilpres 2014, IHSG melejit hingga 3,65%.


Kini menjelang pelantikan presiden dan wakil presiden, fenomena serupa bisa didapati kembali. Untuk diketahui, pelantikan pelantikan presiden dan wakil presiden akan digelar pada hari Minggu (20/10/2019).

Mundur ke tahun 2014 kala pelantikan Jokowi juga digelar pada tanggal 20 Oktober, dalam lima hari perdagangan terakhir menjelang tanggal 20 Oktober 2014, IHSG melejit sebesar 1,33%. Sementara itu, dalam dua hari perdagangan pertama di pekan ini, IHSG baru menguat 0,86%.

Memang, masih ada sisa tiga hari lagi bagi IHSG untuk mencoba menyamai capaian menjelang pelantikan presiden tahun 2014. Namun, agaknya sulit bagi IHSG untuk mengalahkan capaian tahun 2014. Pasalnya pada perdagangan hari ini, Rabu (16/10/2019), IHSG justru melemah sebesar 0,15% per akhir sesi satu.

IHSG melemah pada perdagangan hari ini kala mayoritas bursa saham utama kawasan Asia justru sedang melaju di zona hijau: indeks Nikkei melejit 1,24%, indeks Hang Seng naik 0,01%, indeks Straits Times terapresiasi 0,6%, dan indeks Kospi bertambah 0,5%.

Adalah fundamental rupiah yang rapuh yang membuat IHSG tak bisa berkutik pada hari ini. Hingga siang hari, rupiah melemah 0,11% melawan dolar AS di pasar spot ke level Rp 14.175/dolar AS. Jika tak juga mampu membalikkan keadaan, maka rupiah akan melemah selama tiga hari beruntun.

Rilis data perdagangan international periode September 2019 masih menjadi momok bagi rupiah. Kemarin (15/10/2019), Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa ekspor jatuh sebesar 5,74% secara tahunan (year-on-year) pada bulan lalu, sementara impor turun 2,41% YoY.

Penurunan ekspor lebih rendah ketimbang konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia yang memperkirakan ekspor akan jatuh hingga 6,1% secara tahunan. Sementara itu, kontraksi pada pos impor lebih baik karena konsensus memperkirakan kontraksinya akan mencapai 4,5%.

Namun begitu, neraca dagang pada bulan lalu membukukan defisit senilai US$ 160 juta, berbanding terbalik dengan konsensus yang memperkirakan adanya kehadiran surplus senilai US$ 104,2 juta.

Dengan adanya defisit neraca dagang yang mengejutkan tersebut, dikhawatirkan bahwa defisit transaksi berjalan/Current Account Deficit (CAD) masih akan bengkak pada kuartal-III 2019.

Untuk diketahui, pada kuartal I-2019 Bank Indonesia (BI) mencatat CAD berada di level 2,6% dari Produk Domestik Bruto (PDB), jauh lebih dalam ketimbang CAD pada kuartal I-2018 yang berada di level 2,01% dari PDB. Kemudian pada kuartal II-2019, CAD membengkak menjadi 3,04% dari PDB. CAD pada tiga bulan kedua tahun ini juga lebih dalam ketimbang capaian pada periode yang sama tahun lalu di level 3,01% dari PDB.

BERLANJUT KE HALAMAN 2 -> Janji Manis Tak Terealisasi

Janji Manis Tak Terealisasi
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading