Duh! Beli 5 Saham Ini Sepekan Bisa Boncos Hingga 35%

Market - Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
13 October 2019 11:30
Duh! Beli 5 Saham Ini Sepekan Bisa Boncos Hingga 35% Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Jakarta, CNBC Indonesia - Sepanjang pekan ini, bursa saham acuan Tanah Air bukannya menjadi juara pertama dengan tingkat imbal hasil paling tinggi, tapi justru berada di posisi runner up kategori top losers di antara bursa saham utama Benua Kuning.

Pada penutupan perdagangan Jumat (11/10/2019), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 6.105,8 poin dan dalam sepakan menguat 0,73% lebih unggul dari bursa saham Malaysia yang mencatatkan koreksi 0,05%. Pada awal pekan, IHSG bahkan sempat terperosok d bawah level psikologis 6.000.

Terlebih lagi, investor asing juga ikut berbondong-bondong meninggalkan bursa saham Tanah Air. Dalam sepakan, investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) mencapai Rp 1,12 triliun.



Lebih lanjut, jika dilihat dari sisi pergerakan emiten, perusahaan mana sajakah yang membukukan koreksi paling dalam selama pekan ini sehingga masuk dalam daftar top losers.

1. PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk (OPMS)

Emiten produsen logam, PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk (OPMS) memimpin kategori top losers karena harga saham perusahaan anjlok hingga 35,35%, dari Rp 430/saham menjadi Rp 278/saham.

OPMS pertama kali diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 23 September 2019 dengan harga penawaran saham perdana Rp 135/saham. Dana hasil IPO (Initial Public Offering) dipakai untuk modal kerja untuk membeli kapal bekas yang akan dijadikan besi scrap.

2. PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR)

Saham PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) mengalami koreksi 25% dalam pekan ini menjadi Rp 3.210/saham, di mana rerata nilai transaksi ada di Rp 29,11 juta dengan investor asing membukukan aksi jual bersih sebesar Rp 26 juta.

SUPR didirikan pada 2006 dan merupakan emiten menara telekomunikasi terbesar ketiga di Indonesia. Tahun ini perusahaan dikabarkan menjadi salah satu peserta lelang yang akan membeli menara milik PT Indosat Tbk (ISAT).

3. PT Graha Layar Tbk (BLTZ)

Dalam sepakan, sama halnya dengan SUP, PT Graha Layar Tbk (BLTZ) juga mencatatkan penurunan harga sebesar 25% ke level Rp 3.000/saham dari sebelumnya Rp 4.000/saham. Rata-rata nilai transaksi emiten BLTZ hanya Rp 500 ribu dan investor asing terlihat tidak tertarik mengkoleksi saham perusahaan.

BLTZ atau yang lebih dikenal dengan nama CGV Cinemas didirikan pada tahun 2004 dan pertama kali membuka bioskop pertama perusahaan pada 2006 di Paris Pan Java Bandung. Hingga akhir Juni 2019, perusahaan mencatatkan laba Rp 41,1 miliar.

4. PT Tira Austenite Tbk (TIRA)

Harga saham PT Tira Austenite Tbk (TIRA) pada pekan ini anjlok 24,6%, dari Rp 252/saham menjadi hanya Rp 190/saham.

Perusahaan didirikan di tahun 1971 sebagai dengan bisnis utama memasarkan produk-produk Teknik dari Eropa, khususnya kawat las dan mesin las. Kemudian di tahun 1996 perusahaan melakukan diversifikasi usaha ke bisnis gas industri.

5. PT Maskapai Reasuransi Indonesia Tbk (MREI)

Emiten reasuransi, PT Maskapai Reasuransi Indonesia Tbk (MREI) masuk kategori top losers setelah sepanjang pekan ini terkoreksi sebesar 24,5% dan menutup perdagangan Jumat di level Rp 4.700/saham.

Untuk diketahui reasuransi adalah istilah yang digunakan ketika perusahaan asuransi ingin mendapat perlindungan dari resiko asuransi. MREI merupakan perusahaan reasuransi pertama di Indonesia yang berdiri pada tahun 1953 dan sudah terdaftar di BEI sejak 1989.



TIM RISET CNBC INDONESIA (dwa/dwa)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading