RBA "Belum Puas" Pangkas Suku Bunga, Dolar Australia Terkapar

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
01 October 2019 18:33
RBA dikatakan masih memiliki amunisi dengan beberapa kali pemangkasan suku bunga, dan setelah jika perekonomian tidak membaik kebijakan tidak biasa diterapkan.
Jakarta, CNBC Indonesia - Kurs dolar Australia melemah melawan rupiah pada perdagangan Selasa (1/10/19) dan mendekati level terlemahnya dalam lebih dari tiga tahun terakhir.

Dolar Australia melemah 0,58% ke Rp 9.515,93 di pasar spot, melansir data Refintiv. Posisi tersebut tidak jauh dari level terlemah lebih dari tiga tahun tepatnya sejak Februari 2016 Rp 9.493,59 yang disentuh pada 20 September lalu.




Bank sental Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) yang kembali memangkas suku bunga, memberikan tekanan bagi mata uangnya. RBA hari ini memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 0,75%, yang merupakan rekor terendah sepanjang sejarah RBA. Sebelumnya, bank sentral pimpinan Philip Lowe ini sudah memangkas suku bunga pada Juni dan Juli.



RBA juga mengindikasikan akan kembali memangkas suku bunga jika diperlukan untuk merangsang perekonomian.

Reuters mewartakan, ekonomi Australia dalam 28 tahun terakhir terus mengalami pertumbuhan, tetapi kini mulai terancam resesi akibat melambatnya pertumbuhan, inflasi yang rendah, tingkat pengangguran yang meningkat serta lemahnya pasar properti.

"Para dewan gubernur akan terus memantau perkembangan, termasuk pasar tenaga kerja, serta mempersiapkan pelonggaran moneter lebih lanjut jika diperlukan" kata Lowe saat pengumuman kebijakan moneter hari ini.



Sikap RBA yang "belum puas" memangkas suku bunga memberikan tekanan yang kuat bagi dolar Australia. Pelaku pasar kini melihat peluang sebesar 60% RBA akan memangkas suku bunga di bulan November sebesar 25 bps menjadi 0,5%. Sebelum pernyataan tersebut peluang itu hanya 30%, ini berarti naik dua kali lipat.

RBA dikatakan masih memiliki amunisi dengan beberapa kali pemangkasan suku bunga, dan setelah jika perekonomian tidak membaik kebijakan tidak biasa atau unconventional akan diterapkan.

"RBA kini memiliki tiga kali, atau bahkan lebih sedikit lagi, kebijakan pemangkasan suku bunga sebelum mereka mempertimbangkan kebijakan moneter unconventional - suku bunga negatif, quantitative easing (QE), atau menetapkan target yield obligasi" kata Rob Carnell, kepala ekonomi Asia Pasifik di ING, sebagaimana dilansir Reuters.

Dolar Australia tentunya akan semakin tertekan jika RBA nantinya menerapkan kebijakan tidak biasa. 

TIM RISET CNBC INDONESIA 


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading