Analisis

Menguat Tajam, Rupiah Bisa di Bawah Rp 13.900/US$?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
13 September 2019 12:37

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah melesat tajam melawan dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah berhasil bertahan di bawah Rp 14.000/US$. Mampukah rupiah terus menguat sampai, let's say, di bawah Rp 13.900/US$?

Pada Jumat (13/9/2019) pukul 12:28 WIB, US$ 1 dihargai Rp 13,945. Rupiah menguat 0,29% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Sejak kemarin, rupiah begitu kuat hingga dolar AS berhasil didorong ke bawah Rp 14.000. Setelah level 'keramat' itu ditembus, apresiasi rupiah semakin sulit ditahan.


Situasi eksternal memang sedang mendukung rupiah. Dini hari tadi waktu Indonesia, bank sentral Uni Eropa (ECB) menurunkan suku bunga acuan sebesar 10 basis poin (bps) menjadi -0,5%. Plus, Presiden Mario Draghi dan kolega sepakat untuk menggulirkan kembali program pembelian surat-surat berharga (quantitative easing) mulai 1 November.


Langkah ECB disambut baik pelaku pasar, paket kebijakan tersebut diharapkan mampu membangkitkan perekonomian di blok 19 negara. Di kala perekonomian bangkit, selera terhadap risiko (risk appetite) investor meningkat, dan aset-aset berisiko yang memberikan return tinggi kembali menjadi incaran.

Indonesia menjadi salah satu target masuknya aliran modal melihat return yang diberikan jauh lebih tinggi. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Indonesia seri acuan tenor 10 tahun ada di 7,256%. Memang dalam tren turun, tetapi sangat jauh dibandingkan instrumen serupa di AS (1,7872%).

Selain cuan, berinvestasi di Indonesia juga semakin aman. Akhir Mei lalu, lembaga pemeringkat Standard and Poor's (S&P) menaikkan peringkat utang Indonesia dari BBB- menjadi BBB. Risiko gagal bayar (default) kian rendah.

Risiko investasi di Indonesia yang semakin rendah terkonfirmasi di Credit Default Swap (CDS). Baik untuk tenor 5 maupun 10 tahun, CDS Indonesia berada di posisi terendah sejak akhir Juli.


Masih belum cukup sentimen positif bagi rupiah? Harapan akan adanya damai dagang AS-China semakin mendongkrak performa rupiah.

Pada Kamis (12/9/2019) waktu setempat, Presiden AS Donald Trump membuka peluang untuk meneken kesepakatan sementara (interim) dengan China. "Banyak orang membicarakannya, saya melihat banyak analis mengatakan kesepakatan sementara - artinya kita akan mendahulukan yang mudah dulu.Tidak ada yang mudah atau sulit. Ada kesepakatan atau tidak ada kesepakatan. Namun itu sesuatu yang akan kita pertimbangkan," ungkap Trump seperti dikutip CNBC International.


(BERLANJUT KE HALAMAN 2)


(pap/pap)
1 dari 2 Halaman
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading