Pasar Belum Move On dari Isu Resesi, Rupiah Susah Menguat

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
16 August 2019 08:49
Pasar Belum Move On dari Isu Resesi, Rupiah Susah Menguat
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat di perdagangan pasar spot hari ini. Namun tidak lama kemudian penguatan itu habis. 

Pada Jumat (16/8/2019), US$ 1 setara dengan Rp 14.255 kala pembukaan perdagangan pasar spot. Rupiah menguat tipis 0m03% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya. 

Akan tetapi, penguatan rupiah yang tipis itu habis dalam waktu singkat. Pada pukul 08:28 WIB, US$ 1 dibanderol Rp 14.260, sama seperti posisi penutupan kemarin alias stagnan. 



Bagi rupiah, stagnan saja sebenarnya sudah bagus. Sebab mayoritas mata uang utama Asia melemah di hadapan dolar AS. Hanya ringgit Malaysia, peso Filipina, dan dolar Singapura yang masih bisa menguat. 

Berikut perkembangan kurs dolar AS terhadap mata uang utama Benua Kuning pada pukul 08:30 WIB: 



Sepertinya minat pelaku pasar terhadap instrumen berisiko belum pulih benar. Meski Wall Street sudah menunjukkan perbaikan, tetapi mood investor di Asia masih belum terangkat. 


Hantu ancaman resesi rasanya masih bergentayangan. Investor belum bisa move on dari risiko tersebut. 

Benar, sekarang imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor dua dan 10 tahun tidak lagi mengalami inversi. Namun di tenor-tenor lain masih terjadi yield obligasi jangka pendek lebih tinggi ketimbang yang jangka panjang. 

 

Oleh karena itu, kekhawatiran ancaman resesi masih ada. Ditambah lagi ada rilis data-data ekonomi di sejumlah negara yang mengecewakan.  

Pada Juli, produksi industri AS turun 0,2% month-on-month (MoM), memburuk dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 0,2% MoM. Kemudian pada pekan yang berakhir 10 Agustus, jumlah orang yang mengambil tunjangan pengangguran di AS adalah 220.000, naik 9.000 dibandingkan pekan sebelumnya. 

Beralih ke Singapura, ekspor non-migas pada Juli turun 11,2% year-on-year (YoY). Ini menjadi kontraksi kelima berturut-turut. 

 

Jadi, masih sulit berharap arus modal akan berani masuk ke instrumen berisiko, apalagi di negara berkembang karena ketakutan terhadap resesi begitu besar. Seretnya pasokan 'darah' akan membuat rupiah sulit menguat.



TIM RISET CNBC INDONESIA


(aji/aji)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading