Tanda-tanda Resesi Mencuat, Straits Times Babak Belur

Market - Houtmand P Saragih & Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
15 August 2019 08:37
Indeks Straits Times (STI) dibuka anjlok 1,64% menjadi 3.095,85 poin
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham acuan Singapura dibuka terperosok cukup dalam pada perdagangan hari ini (15/8/2019) seiring dengan indikasi awal resesi ekonomi kembali mencuat di beberapa negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

Indeks Straits Times (STI) dibuka anjlok 1,64% menjadi 3.095,85 poin, dimana dari 30 saham yang menghuni indeks acuan bursa saham Singapura tersebut, sebanyak 1 mencatatkan kenaikan harga, 26 saham melemah, dan 3 saham tidak mencatatkan perubahan harga.

Rilis data terbaru China membawa kecemasan para pelaku pasar global bahwa perlambatan ekonomi dunia yang sedang terjadi saat ini memiliki potensi resesi yang cukup besar.


Kemarin (14/8/2019), produksi industri Negeri Tirai Bambu periode Juli tercatat hanya tumbuh 4,8% year-on-year (YoY). Jauh melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 6,3% dan merupakan laju terlemah sejak 17 tahun lalu, tepatnya Februari 2002, dilansir Reuters.

Sementara itu, penjualan ritel juga tidak kalah mengecewakan. Pasalnya, pada bulan Juli tercatat hanya tumbuh 7,6% YoY, lebih rendah dari perolehan Juni yang naik 9,8% YoY.

Lebih lanjut, rilis data ekonomi Jerman yang merupakan perekonomian terbesar di Benua Biru juga menyedihkan. Pertumbuhan ekonomi Jerman pada kuartal II-2019 adalah 0,4% YoY. Melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yaitu 0,9% YoY.

Untuk keseluruhan 2019, pemerintah Jerman memperkirakan ekonomi tumbuh 0,5%. Tahun lalu, ekonomi Jerman tumbuh 1,5%.

Merespon situasi tersebut, Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan inversi. Pada pukul 08:14 WIB obligasi tenor 2 tahun memiliki yield sebesar 1,5731, sedangkan tenor 10 tahun mencatat imbal hasil sebesar 1,5708.

Ini adalah inversi pertama untuk dua tenor tersebut sejak Juni 2007, beberapa bulan sebelum meletusnya krisis keuangan global.

Inversi menunjukkan bahwa risiko dalam jangka pendek lebih tinggi ketimbang jangka panjang. Oleh karena itu, inversi kerap dikaitkan dengan pertanda resesi.

Kekhawatiran akan terjadinya resesi, membuat pelaku pasar di Singapura memilih mundur. Hal ini dikarenakan, rilis data di atas semakin memberikan bukti bahwa ke depannya ekonomi Negeri Singa berpotensi tertekan semakin dalam.

Untuk diketahui, laju pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II-2019 hanya di level 0,1% YoY, alias stagnan.

Pada hari ini tidak ada rilis data ekonomi dari Singapura.

Tim Riset CNBC Indonesia
(dwa)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading