Perang Dagang Memanas Lagi, Harga Minyak Amblas 5% Sepekan

Market - Yazid Muamar, CNBC Indonesia
11 August 2019 06:50
Perang Dagang Memanas Lagi, Harga Minyak Amblas 5% Sepekan
Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam sepekan, harga minyak mentah dunia masih mengalami tekanan akibat pelaku pasar khawatir akan terjadi perlambatan ekonomi secara global akibat eskalasi perang dagang AS-China. Minyak mentah jenis Brent yang menjadi acuan dalam negeri anjlok hingga 5,79% selama sepekan, dan light sweet terpangkas 2,67%.

Sebagaimana diketahui, pada hari Kamis (1/8/2019) Presiden Trump mengatakan akan mengenakan bea impor sebesar 10% pada produk asal China senilai US$ 300 miliar.


"Perundingan dagang terus berlanjut, dan selagi berunding AS akan menerapkan tambahan kecil 10% bea masuk untuk impor produk China senilai US$ 300 miliar mulai 1 September. Ini tidak termasuk importasi senilai US$ 250 miliar yang sudah dikenakan bea masuk 25%," tulis Trump melalui Twitter.


China dan AS merupakan dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia. Kala hubungan dagang keduanya semakin terhambat, maka rantai pasokan global juga akan terkena imbasnya.




Berkaca pada eskalasi perang dagang yang terjadi pada bulan Mei, Bank Dunia (World Bank/WB) dan Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) kompak sudah kompak menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2019 dan 2020.

pada bulan Juni 2019, Bank Dunia menurunkan ramalan pertumbuhan ekonomi tahun 2019 sebesar 0,3 persen poin menjadi 2,6%. Sementara proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2020 dipangkas 0,1 persen poin menjadi 2,7%. Adapun IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2019 dan 2020 sebesar 0,1 persen poin menjadi masing-masing sebesar 3,25 dan 3,5%.

Namun demikian, harga minyak mentah di pasar global pada hari Jumat melonjak seiring penurunan persediaan di Eropa dan ekspektasi pemangkasan produksi oleh organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC).

Di pasar spot, Jumat (09/08/2019) Brent melesat 1,41% ke level US$ 58,30/barel. Sedangkan harga minyak jenis light sweet yang menjadi acuan negara di kawasan Amerika naik lebih tinggi sebesar 3,27% ke level US$ 54,17/barel.

Di sisi lain Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan bahwa pertumbuhan permintaan akan minyak berada pada titik terendah sejak krisis keuangan pada 2008.

TIM RISET CNBC INDONESIA



(yam/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading