Trump Serang Proyek Rusia, Yen Kembali Perkasa

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
13 June 2019 08:14
Trump Serang Proyek Rusia, Yen Kembali Perkasa
Jakarta, CNBC Indonesia - Di saat dolar Amerika Serikat (AS) unjuk kekuatan terhadap mata uang utama dunia, yen justru bergeming bahkan sempat menguat pada perdagangan Rabu (12/6/19) kemarin. Sementara pada pagi ini Kamis (13/6/19) yen juga masih tampak perkasa menahan tekanan Mata Uang Paman Sam.

Pada pukul 7:13 WIB, yen diperdagangkan di kisaran 108,44/US$ mengutip data dari Refinitiv. Pada Rabu kemarin yen sempat menguat ke level 108,20/US$ sebelum mengakhiri perdagangan di level 108,49/US$.





Dolar AS yang awalnya terseok-seok setelah data menunjukkan melambatnya inflasi di Negeri Adidaya berhasil bangkit memanfaatkan kecemasan pelaku pasar akan tingginya ketidakpastian global.

Dolar merupakan salah satu aset aman atau safe haven sehingga menjadi incaran saat kondisi dipenuhi ketidakpastian. Namun yen Jepang merupakan aset yang "lebih safe haven" dibandingkan dolar sehingga tampil lebih perkasa.



Presiden AS Donald Trump yang terus menebar ancaman menjadi pemicu tingginya ketidakpastian global. Setelah ancaman ke China masalah perang dagang, Trump juga menyoroti rendahnya nilai tukar euro dan yen yang dikatakan merugikan bagi AS.

Terbaru Rabu kemarin Trump mengancam akan memberikan sanksi terhadap proyek pipa gas Nord Stream 2 milik Rusia. Nord Stream 2 merupakan jalur pipa gas dari Rusia ke Jerman sepanjang 1200 km. Proyek ini terbilang kontroversial dan sudah ditolak oleh beberapa negara-negara Eropa yang akan dilalui pipa tersebut.

Pembangunan infrastruktur Nord Stream 2 oleh Rusia dianggap dapat menganggu keamanan dalam negeri negara yang dilalui.

Pasca-ancaman tersebut mata uang euro langsung jeblok terhadap dolar AS, disusul poundsterling, sebaliknya yen kembali menguat.



Sementara itu Rabu kemarin data yang dirilis oleh Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan inflasi yang dilihat dari indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) hanya tumbuh 0,1% di bulan Mei, melambat dari bulan sebelumnya sebesar 0,3%. Persentase kenaikan harga-harga di bulan Mei tersebut sesuai dengan prediksi Forex Factory.




Inflasi inti atau Core CPI (yang tidak memasukkan sektor makanan dan energi dalam perhitungan) juga tumbuh 0,1% sama dengan pertubuhan bulan April, namun masih di bawah prediksi di Forex Factory sebesar 0,2%.



Data inflasi serta data tenaga kerja merupakan beberapa indikator yang dijadikan acuan Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) untuk menentukan suku bunga. Buruknya dua data tersebut menguatkan prediksi The Fed akan memangkas suku bunga sebanyak tiga kali di tahun ini, yakni di bulan Juli, September, dan Desember.


TIM RISET CNBC INDONESIA


(prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading