The Fed, Perang Dagang & Data Ekonomi Rontokkan Bursa Asia

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
23 May 2019 - 17:57
The Fed, Perang Dagang & Data Ekonomi Rontokkan Bursa Asia
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham utama kawasan Asia berguguran pada perdagangan hari ini: indeks Nikkei turun 0,62%, indeks Shanghai turun 1,36%, indeks Hang Seng turun 1,58%, indeks Straits Times turun 0,7%, dan indeks Kospi turun 0,26%.

Rilis risalah rapat (minutes of meeting) The Federal Reserve selaku bank sentral AS menjadi salah satu faktor yang membebani kinerja bursa saham Benua kuning. Melalui risalah rapat edisi 30 April-1 Mei, terungkap indikasi bahwa Jerome Powell (Gubernur The Fed) dan kolega tak akan mengubah tingkat suku bunga acuan dalam beberapa waktu ke depan, dilansir dari CNBC International. Tak mengerek naik, namun juga tak memangkasnya.

"Para anggota melihat bahwa pendekatan yang sabar... kemungkinan akan tetap layak diadopsi untuk beberapa waktu," tulis risalah The Fed yang dirilis pada hari Rabu (22/5/2019), dilansir dari Reuters.


Wajar jika pelaku pasar saham kecewa dengan risalah The Fed tersebut. Pasalnya, di tengah perang dagang AS-China yang terus saja tereskalasi, belum lagi ditambah potensi meletusnya perang dagang AS-Uni Eropa, pemangkasan tingkat suku bunga acuan dianggap menjadi hal yang paling bijak.

Ketika tingkat suku bunga acuan dipangkas, tingkat suku bunga kredit yang ditawarkan oleh perbankan di AS juga akan turun dan menstimulasi rumah tangga serta dunia usaha untuk menarik kredit, yang pada akhirnya akan mendorong perekonomian tumbuh lebih tinggi.

Perkembangan terbaru juga menunjukkan bahwa anggota The Fed masih nyaman dengan kebijakan yang sudah diambilnya sejauh ini. Dalam wawancara pada hari Rabu dengan Fox Business, Dallas Federal Reserve president Robert Kaplan mengatakan bahwa untuk menggerakkan tingkat suku bunga acuan (baik naik maupun turun), dirinya perlu melihat suatu hal yang meyakinkan.

"Pada dasarnya, kami berada dalam pengaturan kebijakan yang tepat," kata Kaplan, dilansir dari Reuters.

Selain itu, perkembangan perang dagang AS-China yang masih panas ikut membebani kinerja bursa saham Asia. Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengungkapkan bahwa hingga saat ini, AS belum memiliki rencana untuk bertandang ke Beijing guna menggelar negosiasi dagang, dilansir dari CNBC International. Komentar tersebut diberikannya menjelang dengar pendapat dengan para anggota legislatif di AS pada hari Rabu.

Selain itu, AS masih mengincar produk-produk impor asal China senilai US$ 300 miliar untuk dikenakan bea masuk. Saat ini, AS tengah mempelajari dampak pengenaan bea masuk tersebut terhadap konsumen di sana, seperti diungkapkan oleh Mnuchin dalam dengar pendapat dengan para anggota legislatif, dilansir dari Reuters.

Sementara itu, China diketahui sudah mempertimbangkan kebijakan yang akan diberlakukan terhadap AS sebagai balasan karena membatasi ruang gerak Huawei di AS.

Menurut sebuah laporan dari South China Morning Post, China sedang mempertimbangkan untuk menghentikan pembelian gas alam dari AS. Pada tahun 2017, China diketahui membeli minyak mentah dan gas alam cair senilai US$ 6,3 miliar dari AS.

Terakhir, tekanan bagi bursa saham Asia datang dari rilis data ekonomi yang mengecewakan. Pada hari ini, pembacaan awal untuk data Manufacturing PMI periode Mei 2019 versi Nikkei diumumkan di level 49,6, lebih rendah dari capaian bulan sebelumnya yang sebesar 50.2. Capaian tersebut juga lebih rendah dibandingkan konsensus yang sebesar 50,5, dilansir dari Trading Economics.

Sebagai informasi, angka di bawah 50 menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur mengalami kontraksi jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, sementara angka di atas 50 menunjukkan adanya ekspansi.

TIM RISET CNBC INDONESIA (ank/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading