Sri Mulyani & Perry Ungkapkan Dahsyatnya Tekanan Global

Market - Lidya Julita S, CNBC Indonesia
23 May 2019 14:31
Sri Mulyani & Perry Ungkapkan Dahsyatnya Tekanan Global
Jakarta, CNBC Indonesia - Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mengungkapkan dahsyatnya faktor global penyebab utama dari kondisi domestik terakhir ini. Faktor tersebut adalah memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, memanasnya konflik antar dua negara besar ini di luar ekspektasi pasar dan tanpa persiapan. Keputusan final yang dinilai positif ternyata berubah arah seketika.

"Kebetulan emang trigger awal dari AS yang sebetulnya tidak diantisipasi. Karena pas spring meeting lalu bahasa yang muncul ada harapan persetujuan negosiasi AS dan China, sehingga pas Trump sampaikan tak puas sama progress dan seketika keputusan tambah tarif, seluruh market dan policy maker tidak antisipasi perubahan drastis itu," ujarnya di Gedung Kemenkeu, Jakarta, Kamis (23/5/2019).


Menurutnya, dengan perubahan tersebut, maka Indonesia ikut tertekan terlihat dari pelemahan nilai tukar rupiah hingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang juga melemah ke level di bawah 6.000.




"Jadi saya sampaikan bahwa signal itu bikin pasar saham di dunia terpengaruh. Karena tanda-tandanya dari Desember hingga April lalu, berbagai negosiasi (AS-China) memberikan harapan tapi yang muncul adalah surprise," jelasnya.

Sedangkan aksi 22 Mei kemarin dinilai tidak terpengaruh secara signifikan kepada pasar keuangan hingga makro ekonomi Indonesia. Pasalnya adanya aksi ini setelah pengumuman hasil pemilu sudah diprediksi.

"Indikator dalam negara positif. Kalau kerusuhan seluruh investor dan pelaku ekonomi paham bahwa hasil pemilu sudah di antisipasi. Ucapan dari pemimpin dunia yang sampaikan selamat ini menunjukkan mereka confident," jelasnya.

Sejalan dengan Sri Mulyani, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo juga menilai perang dagang yang membuat nilai tukar terus tertekan sejak awal. Ini juga yang membuat terjadi outflow dan inflow di pasar keuangan domestik.




Perry menyebutkan, pekan lalu bahkan terjadi outflow hingga Rp7,3 triliun setelah eskalasi perang dagang AS dan China kembali terjadi.

Namun, itu dinilai hanya sementara karena dalam dua hari terakhir, kembali terjadi inflow atau aliran dana asing masuk ke pasar keuangan baik melalui saham ataupun Surat Berharga Negara (SBN).

"Minggu lalu outflow untuk SBN dan 2 hari terakhir kembali lagi inflow Rp1,7 triliun. Trade war memang sangat terpengaruh termasuk ke rupiah," jelasnya.

Dengan kondisi ini, Perry menekankan bahwa BI akan terus ada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar terus berada di fundamentalnya. BI akan terus melakukan intervensi baik di pasar valuta asing (valas) ataupun sekunder.

"Kami sudah beli SBN dari pasar sekunder Rp19,47 triliun. Ini umumnya dari SBN dan SBSN yang umumnya dilepas asing. Kami gunakan ini SBN ini adalah di dalam langkah lakukan operasi moneter kita," tegasnya.





(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading