Berikan Dua Jempol! Seperti Ini Perjuangan BI Jaga Rupiah

Market - Herdaru Purnomo, CNBC Indonesia
17 May 2019 18:41
Berikan Dua Jempol! Seperti Ini Perjuangan BI Jaga Rupiah
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) habis-habisan menjaga nilai tukar rupiah menahan kuatnya dolar AS akibat kondisi eksternal yang cukup berat. Bank sentral terus mengupayakan agar kepercayaan terhadap Rupiah tetap terjaga.

Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah mengungkapkan, sejak pembukaan pasar, Rupiah mendapat tekanan karena aksi 'short covering' mengumpulkan dolar di pasar oleh sejumlah bank.

"Ini menyebabkan kurs tertekan dari Rp 14.445/US$ ke Rp 14.465/US$. BI mengawal pergerakan kurs melalui intervensi di pasar spot dalam jumlah yang sangat terukur sebagai sinyal," tutur Nanang kepada CNBC Indonesia, Jumat (17/5/2019).


Pada sesi siang, Nanang melanjutkan tekanan kembali meningkat menyusul komentar pejabat China yang mengatakan tidak tertarik untuk melanjutkan negosiasi sengketa dagang dengan AS, sehingga memicu pembelian valas oleh bank bank offshore dan pelepasan SBN [Surat Berharga Negara]. Berbagai cara pun dilakukan bank sentral dengan strategi fantastis.


Tekanan Luar Berat, Seperti Ini Perjuangan BI Jaga RupiahFoto: Nanang Hendarsah (kiri) di CNBC Indonesia TV


"BI kembali menjaga stabilitas dikombinasi dengan masuk ke pasar obligasi negara untuk memastikan terpeliharanya market confidence dan mencegah berlanjutnya pelepasan obligasi yang dapat memicu (spiralling effect) ke pelemahan Rupiah lebih lanjut."

Jerih payah BI membuahkan hasil. Langkah stabilisasi BI di pasar bond tetap diupayakan agar daya tarik imbal hasil (yield) SBN tetap tidak tergerus. Dengan yield SBN (FR0078 benchmark) saat ini di 8.01% dan yield US treasury bond 2.38% maka spread imbal hasil masih cukup lebar di 562 bps.

"Ini masih cukup tinggi untuk dapat menarik arus modal masuk," tegas Nanang.

Sementara itu, lanjut Nanang, upaya untuk menyediakan likuiditas di pasar DNDF [Domestic Non-Delivery Forward] terus dilakukan melalui 8 money brokers sepanjang sesi perdagangan.

Langkah ini juga penting untuk memastikan kurs NDF di luar negeri tetap terkendali, karena kenaikan kurs NDF juga sering diikuti tekanan di pasar spot dalam negeri.

"Situasi global saat ini, terutama sejak memanasnya kembali sengketa dagang AS-China memang penuh ketidakpastian. Dalam kondisi demikian tidak ada cara lain, kita tidak boleh lengah serta sigap dan tegas dalam merespon," tutur Nanang.

Rupiah mengakhiri perdagangan pada Jumat akhir pekan ini (17/5/19) stagnan alias flat di level Rp 14.445/US$ sama dengan penutupan perdagangan Kamis kemarin (16/5/19).



(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading