Harga Obligasi Kebal Dari Dampak Buruk Data Neraca Dagang

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
15 May 2019 19:55
Harga Obligasi Kebal Dari Dampak Buruk Data Neraca Dagang
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi rupiah pemerintah menguat pada penutupan pasar hari ini, bergeming dan seakan kebal terhadap data neraca perdagangan yang membukukan kinerja buruk. 

Sejak awal perdagangan, pasar obligasi bergerak positif meskipun sentimen neraca perdagangan juga masih ditambah bayang-bayang perang dagang China-AS yang masih berkecamuk. 

Naiknya harga surat utang negara (SUN) itu seiring dengan apresiasi yang terjadi di pasar surat utang pemerintah negara berkembang yang lain.  


Data Refinitiv menunjukkan menguatnya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menurunkan tingkat imbal hasilnya (yield).  



Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder.
 

Yield juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka. 

SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum. 

Keempat seri yang menjadi acuan itu adalah FR0077 bertenor 5 tahun, FR0078 bertenor 10 tahun, FR0068 bertenor 15 tahun, dan FR0079 bertenor 20 tahun. 

Seri acuan yang paling menguat adalah FR0068 yang bertenor 15 tahun dengan penurunan yield 4,8 basis poin (bps) menjadi 8,53%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.   


Yield Obligasi Negara Acuan 15 Mei'19
SeriJatuh tempoYield 14 Mei'19 (%)Yield 15 Mei'19 (%)Selisih (basis poin)Yield wajar IBPA 15 Mei'19
FR00775 tahun7.5487.516-3.207.4333
FR007810 tahun8.0658.02-4.507.9771
FR006815 tahun8.5798.531-4.808.4623
FR007920 tahun8.6488.612-3.608.5461
Avg movement-4.03
Sumber: Refinitiv  


Apresiasi pasar obligasi pemerintah hari ini tercermin pada harga obligasi wajarnya, di mana indeks INDOBeX Government Total Return milik PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI/IBPA) masih menguat.  

Indeks tersebut naik 0,58 poin (0,24%) menjadi 243,6 dari posisi kemarin 243,01. 

Apresiasi SBN hari ini juga membuat selisih (spread) obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun dengan surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor serupa mencapai 563 bps, menyempit dari posisi kemarin 565 bps.  

Yield US Treasury 10 tahun turun lagi hingga 2,38% dari posisi kemarin 2,4%. 

Terkait dengan pasar US Treasury, saat ini masih terjadi inversi seri 3 bulan-10 tahun yang menjadi indikator yang lebih menegaskan kembali bahwa potensi resesi AS semakin dekat dibanding inversi tenor lain. 

Inversi adalah kondisi lebih tingginya yield seri lebih pendek dibanding yield seri lebih panjang. 

Inversi tersebut membentuk kurva yield terbalik (inverted yield curve), yang menjadi cerminan investor yang lebih meminati US Treasury seri panjang dibanding yang pendek karena menilai akan terjadi kontraksi jangka pendek, sekaligus indikator adanya potensi tekanan ekonomi bahkan hingga krisis.  


Yield US Treasury Acuan 15 Mei'2019
SeriBenchmarkYield 14 Mei'19 (%)Yield 15 Mei'19 (%)Selisih (Inversi)Satuan Inversi
UST BILL 20193 Bulan2.4162.4073 bulan-5 tahun24.6
UST 20202 Tahun2.2032.1742 tahun-5 tahun1.3
UST 20213 Tahun2.1662.133 tahun-5 tahun-3.1
UST 20235 Tahun2.1982.1613 bulan-10 tahun2.3
UST 202810 Tahun2.4192.3842 tahun-10 tahun-21
Sumber: Refinitiv  


Terkait dengan porsi investor di pasar SBN, data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu (DJPPR) terakhir menunjukkan investor asing menggenggam Rp 959,27 triliun SBN, atau 38,03% dari total beredar Rp 2.522 triliun berdasarkan data per 13 Mei.  


Angka kepemilikannya masih positif Rp 66,02 triliun dibanding posisi akhir Desember Rp 893,25 triliun, sehingga persentasenya masih naik dari 37,71% pada periode yang sama.
 

Penguatan di pasar surat utang hari ini tidak seperti koreksi yang terjadi di pasar ekuitas dan pasar uang, yang masing-masingnya turun 1,49% dan 0,6%. 

Dari pasar surat utang negara berkembang, penguatan terjadi di Brasil, India, Rusia, Thailand, dan Afsel. 

Di negara maju, penguatan juga terjadi secara luas yaitu di pasar bund Jerman, pasar OAT Perancis, gilt Inggris, dan US Treasury AS.   


Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Negara Maju & Berkembang
NegaraYield 13 Mei'19 (%)Yield 14 Mei'19 (%)Selisih (basis poin)
Brasil8.98.81-9.00
China3.2963.322.40
Jerman-0.071-0.109-3.80
Perancis0.3280.297-3.10
Inggris1.1061.051-5.50
India7.3887.376-1.20
Jepang-0.049-0.0480.10
Malaysia3.823.8311.10
Filipina5.795.7970.70
Rusia8.168.15-1.00
Singapura2.1342.1531.90
Thailand2.462.45-1.00
Amerika Serikat2.4192.384-3.50
Afrika Selatan8.5258.455-7.00
 Sumber: Refinitiv  


TIM RISET CNBC INDONESIA

Saksikan Video Pasar Keuangan Lemah Berjamaah

[Gambas:Video CNBC]


(irv)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading