Duh! Baru Ditransaksikan di Wall Street, Saham Uber Anjlok 8%

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
11 May 2019 10:32
Duh! Baru Ditransaksikan di Wall Street, Saham Uber Anjlok 8%
Jakarta, CNBC Indonesia - Saham Uber anjlok 7,6% pada hari pertama perdagangannya di New York Stock Exchange (NYSE). Saham ini mulai diperdagangkan di harga US$ 42/saham, di bawah harga penawaran umumnya yang dipatok di US$ 45/saham pada Kamis (9/5) malam.

Pada penutupan perdagangan kemarin, saham perusahaan penyedia aplikasi transportasi ini ditutup di bahwa US$ 42/saham dengan kapitalisasi pasar US$ 69,7 miliar.

Harga penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) Uber berada di bawah kisaran harga yang ditawarkan, yakni US$ 44-US$ 50/saham. Dengan harga tersebut menjadikan valuasi sahamnya ini senilai US$ 75,46 miliar, jauh dari US$ 120 miiar yang diperkirakan ketika rencana IPO tersebut didengar pasar.


Sementara, penilai internal memperkirakan valuasi perusahaan mencapai US$ 76 miliar.

Waktu pencatatan saham ini saat kondisi pasar yang kurang menguntungkan, Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun lebih dari 300 poin karena sentimen perang dagang.

Presiden Donald Trump mengatakan bahwa Amerika 'tak terburu-buru' menyelesaikan pembicaraan dagang dengan China. Rebound di pasar saham baru terjadi setelah Menteri Keuangan Steven Mnuchin mengatakan pembicaraan perdagangan China 'konstruktif.'

CFO Uber Nelson Chai mengatakan ini adalah hari yang berat. Pihak perusahaan menilai tak pintar dalam memberikan penilaian pada pasar, ketika ditanya apakah ada rencana menunda IPO di tengah kondisi pasar saat ini.

"Saya tidak berpikir bahwa kita cukup pintar untuk mencoba menilai pasar. ... Kami tidak mengoptimalkan untuk mendapatkan yang terbaik. harga pembukaan atau hari listing. Kami benar-benar mencari bagaimana saham terus diperdagangkan dari waktu ke waktu dan itulah yang sedang kami bangun," kata Chai dikutip dari CNBC.

Uber merupakan perusahaan kedua yang mencatatkan sahamnya dengan jenis usaha tersebut. Setelah pada Maret lalu Lyft telah lebih dahulu memasuki pasar.

Kedua perusahaan ini disoroti investor karena sama-sama masih mencatatkan kerugian namun masih menarik karena jenis industri yang dijalankannya.

Adapun saham Lyft merosot lebih dari 7% saat Uber pertama kali ditransaksikan. Bahkan harga saham ini sudah jatuh lebih dari 20% dari harga IPO-nya.

Kondisi tersebut diakui oleh CEO Uber Dara Khosrowshahi membuat pihaknya menjadi lebih konservatif. Menurut dia 2019 akan menjadi puncak kerugian bagi perusahaan.

Khosrowshahi membandingkan Uber dengan Amazon yang sama-sama masih merugi saat IPO, namun perbandingan tersebut diragukan oleh beberapa analis.

"Ini perbandingan yang adil pada waktu yang salah. Jadi banyak perusahaan swasta sekarang menunda lebih lama sebelum mereka go public. Kami jauh lebih besar, lebih matang sebagai perusahaan ketika kami go public, dan jika Anda melihat pada tingkat pertumbuhan, audiens kami tumbuh 33% pada basis tahun ke tahun, transaksi tumbuh 36%. Untuk dapat menumbuhkan transaksi 36% dengan basis $ 50 miliar cukup luar biasa, dan kami berharap dapat terus berjalan," terang dia.

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading