Lagi, Ribut-ribut AS-China Rontokkan Bursa Saham Asia

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
08 May 2019 18:09
Lagi, Ribut-ribut AS-China Rontokkan Bursa Saham Asia
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham utama kawasan Asia kembali menjadi korban dari panasnya bara perang dagang AS-China.

Pada penutupan perdagangan Rabu ini (8/5/2019), indeks Nikkei ditutup jatuh 1,46%, indeks Shanghai melemah 1,12%, indeks Hang Seng juga terkoreksi 1,23%, indeks Straits Times turun 0,87%, dan indeks Kospi terpangkas 0,41%.

Walaupun bersedia untuk menghadiri negosiasi dagang dengan AS pada pekan ini di Washington (9-10 Mei), ternyata pihak China tetap dibuat gerah dengan langkah AS yang berencana menaikkan bea masuk terhadap produk impor asal China senilai US$ 200 miliar.


Saat ini, produk impor senilai US$ 200 miliar tersebut dikenakan bea masuk sebesar 10%. Pada hari Jumat (10/5/2019), bea masuknya akan dinaikkan menjadi 25%.


Menurut sumber-sumber yang mengetahui masalah tersebut, China diketahui tengah mempersiapkan bea masuk balasan yang akan dikenakan terhadap produk impor asal AS jika pemerintahan Presiden Donald Trump jadi mengeksekusi rencananya, seperti dilansir dari Bloomberg.

China akan mengenakan bea masuk balasan tersebut dalam selang satu menit pasca-AS memberlakukan bea masuknya, menurut sumber yang tak ingin disebutkan namanya tersebut.

Lagi, Ribut-Ribut AS-China Rontokkan Bursa Saham AsiaFoto: Wakil Perdana Menteri China Liu He (kiri) bersama Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin (kanan) dan Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer (tengah) di Guesthouse Negara Bagian Diaoyutai di Beijing (29/3/2019). (Nicolas Asfouri / Pool via REUTERS)

Belum tereskalasi saja, perang dagang sudah begitu menyakiti perekonomian China. Pada hari ini, ekspor periode April diumumkan terkontraksi sebesar 2,7% secara tahunan, jauh lebih buruk dari konsensus yang memperkirakan pertumbuhan sebesar 2,3%, seperti dilansir dari Trading Economics.

Jika perang dagang benar tereskalasi nantinya, tentu tekanan terhadap perekonomian China akan menjadi semakin besar. Mengingat status China sebagai negara dengan nilai perekonomian terbesar kedua di dunia, tentunya tekanan terhadap perekonomian China akan berdampak negatif bagi perekonomian dunia.

TIM RISET CNBC INDONESIA

(ank/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading