Analisis Teknikal

IHSG Memerah, Masih Ada Asa Esok Hari

Market - Yazid Muamar, CNBC Indonesia
08 May 2019 17:55
IHSG Memerah, Masih Ada Asa Esok Hari
Jakarta,CNBC Indonesia - Sempat anjlok hingga 1% lebih, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya mampu menipiskan pelemahan hanya menjadi 0,43% ke level 6.270 pada sesi penutupan, Rabu (8/5/2019).

Penguatan IHSG yang terjadi Selasa kemarin sebesar 0,65% tampaknya belum stabil sehingga indeks kembali goyah.

Pada awal perdagangan, IHSG dibuka terkoreksi dalam hingga 0,58%. Pelemahan indeks kemudian berlanjut mengikuti pergerakan bursa utama Asia yang terkoreksi.


Jika dilihat dari sektoral di Bursa Efek Indonesia, semuanya memerah, kendati ada beberapa sektor yang punya bobot besar terhadap IHSG mampu menipiskan koreksi indeks.


Sektor barang konsumsi mencatatkan pelemahan tipis 0,11 poin dan hampir naik. Selama 2 hari terakhir sektor konsumer selalu menguat kendati secara year to date masih minus 4,20%. Faktor bulan Ramadan tentu menjadi katalis positif karena daya beli masyarakat meningkat dengan adanya Tunjangan Hari Raya.

Faktor lainnya berasal dari data penjualan ritel per Maret yang diumumkan Bank Indonesia (BI). Angka penjualan ritel melesat hingga 10,7% year-on-year (YoY), angka tersebut merupakan pencapaian terbaik sejak Desember 2016.

Jika pelemahan sektor konsumer berkurang, koreksi sektor pertambangan justru bertambah dan minus 1,15%, bertambah dari penutupan sesi I yang melemah 1,05%.

Sentimen harga batu bara yang rendah masih jadi katalis negatif. Harga Batu Bara Acuan (HBA) bulan Mei tercatat sebesar US$ 81,86/ton, turun US$ 6,99/ton jika dibandingkan HBA April 2019 yang sebesar US$ 88,85/ton. Tren harga tersebut terus mengalami penurunan sejak akhir tahun lalu.


"Sektor batu bara termal Indonesia akan terdampak dari ketidakpastian kebijakan termasuk perpanjangan izin pertambangan tertentu dan harga jual batu bara ke sektor utilitas domestik yang dipatok, yang mana kami prediksi akan membebani kualitas kredit dari perusahaan batu bara yang kami nilai," ujar Maisam Hasnain, analis Moody's Investor Service, dalam risetnya, Rabu (8/5/2019).

Nilai transaksi IHSG hari ini mencapai Rp 11,73 triliun, cukup ramai dibandingkan nilai perdagangan kemarin di angka Rp 8,5 triliun. Adapun investor asing membukukan jual bersih (net sell) sebesar Rp 688 miliar di pasar reguler.

Nilai net sell bertambah dari kemarin yang mencapai Rp 17 miliar. Kabar baiknya, secara tahun berjalan, asing masih membukukan net buy senilai Rp 4,3 triliun di pasar reguler.

Dari sisi teknikal, IHSG berpeluang menguat pada perdagangan Kamis, esok hari (9/5/2019). Terbentuknya pola bullish hammer mengindikasikan potensi penguatan. Pola tersebut merupakan pola pembalikan arah (reversal).

Sumber: Refinitiv

Jika di lihat dari tingkat kejenuhan, potensi kenaikan cukup memungkinkan mengingat IHSG sudah memasuki fase jenuh jualnya (oversold), mengacu pada indikator teknikal Stochastic Slow yang mengukur momentum kejenuhan.

Meski potensi penguatan masih ada, IHSG secara pergerakan jangka pendek diasosiasikan mengalami tekanan karena masih bergerak di bawah rata-rata nilainya dalam 5 hari terakhir (moving average/MA5).

TIM RISET CNBC INDONESIA

(yam/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading