Laba Naik 4 Kali Lipat, Saham XL Axiata Liar Lagi

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
07 May 2019 10:44
Investor tampaknya mulai mengapresiasi kenaikan laba perseroan yang lebih dari empat kali lipat.
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga saham emiten telekomunikasi asal Malaysia, PT XL Axiata Tbk (EXCL) mulai melesat pada perdagangan Selasa pagi ini (7/5/2019). Investor tampaknya mulai mengapresiasi kenaikan laba perseroan yang lebih dari empat kali lipat pada kuartal I-2019.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 10.20 WIB, harga saham XL Axiata naik 5,96% ke level Rp 3.020/saham. Volume perdagangan saham tercatat sebanyak 14,39 juta saham senilai Rp 42,06 miliar.


Secara year to date atau tahun berjalan, harga saham EXCL tercatat sudah mengalami kenaikan 51,52%. Kenaikan signifikan tersebut, sempat disulut oleh rencana konsolidasi antar-operator telekomunikasi.


Dari sisi kinerja, berdasarkan laporan keuangan perseroan kuartal I-2019 perseroan mampu membukukan peningkatan laba bersih naik nyaris empat kali lipat, padahal total penjualan perusahaan tidak mampu naik dua digit.

Pada 3 bulan pertama tahun ini, laba bersih EXCL meroket 270,59% year-on-year (YoY) menjadi Rp 57,19 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 15,43 miliar.

Perolehan tersebut berhasil dikantongi perusahaan dengan total pendapatan kuartal I-2019 yang hanya naik 8,47% secara tahunan menjadi Rp 5,97 triliun dari capaian kuartal I -2018 senilai Rp 5,5 triliun.

Pendapatan EXCL tumbuh terbatas karena lima dari enam segmen usaha perusahaan masuk dalam rapor merah.

Segmen usaha non-data, jasa interkoneksi, jasa telekomunikasi, sewa menara dan sirkit langganan semuanya mencatatkan pertumbuhan negatif di kuartal pertama tahun ini. Hanya pendapatan lini usaha data yang berhasil tumbuh 27,09% YoY menjadi Rp 4,4 triliun. Segmen usaha inilah yang berhasil menyelamatkan pos pendapatan EXCL.

Perusahaan mampu memberikan ruang untuk pertumbuhan kinerja bottom line (laba) dari tertekannya biaya pada beberapa pos beban usaha.

Beban penjualan dan pemasaran hingga akhir Maret anjlok 20,32% YoY menjadi hanya Rp 456,76 miliar disebabkan oleh rendahnya biaya komisi penjualan untuk periode sekarang.

Pos beban interkoneksi juga terkoreksi 8,21% secara tahunan dari Rp 485,65 di kuartal I-2018 menjadi Rp 445,78 di kuartal I-2019. Hal ini dikarenakan elemen pembentuk pos beban ini, yaitu biaya paket perdana & voucher dan beban interkoneksi turun masing-masing 34,75% YoY dan 17,33% YoY.

Selain itu, pos beban amortisasi juga terjun bebas dengan mencatatkan penurunan 77,48% YoY menjadi hanya 8,19 miliar.

Pelemahan pada 3 pos beban di atas mampu membatasi ruang pertumbuhan beban usaha kuartal pertama tahun ini. Beban usaha EXCL hanya naik 1,4% secara tahunan menjadi Rp 5,3 triliun. Ini berarti proporsi beban usaha terhadap pendapatan hanya 88,8%, dari periode yang sama tahun lalu 95%.

Di lain pihak, jika dilihat dari sisi neraca, nilai aset EXCL sampai akhir Maret 2019 sebesar Rp 57,36 triliun, terkoreksi tipis dari perolehan akhir tahun lalu yang sebesar Rp 57,61 triliun.

Sepanjang tahun 2019, perusahaan sudah menganggarkan belanja modal sebesar Rp 7,5 triliun, di mana sekitar setengahnya akan digunakan untuk persiapan upstream internet 5G.

Lebih lanjut, melansir keterbukaan informasi perusahaan, peluncuran 5G EXCL sedang menunggu perkembangan kebijakan pemerintah dan diproyeksi baru dapat diimplementasikan dalam 3-5 tahun mendatang. Hal ini mengingat ekosistem untuk penerapan 5G masih jauh dari matang.

Simak kinerja keuangan EXCL sepanjang 3 bulan pertama 2019.
[Gambas:Video CNBC]

(hps/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading