Kinerja Keuangan Lippo Karawaci Diselamatkan oleh RS Siloam

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
02 May 2019 08:31
Kinerja Keuangan Lippo Karawaci Diselamatkan oleh RS Siloam
Jakarta, CNBC Indonesia - Pendapatan induk properti Grup Lippo yaitu PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) pada medio kuartal I-2019 berbalik meningkat terbantu oleh kinerja divisi rumah sakit. 

Kinerja pendapatan itu berbalik membaik dari kinerja periode yang sama tahun lalu yang masih melemah, melanjutkan tren penurunan kuartal I yang terjadi sejak 2017. 

Realisasi pendapatan sudah berbalik tersebut ternyata belum mampu mengangkat kinerja laba berjalan atribusi induk kuartal I yang masih berlanjut turun secara historis sejak 2016 karena kenaikan laba yang cukup besar tahun ini. 

Laporan keuangan emiten yang saat ini dipimpin John Riady tersebut menunjukkan pendapatan perseroan naik 12,1% menjadi Rp 2,8 triliun pada kuartal I-2019 dari Rp 2,5 triliun pada kurtal I-2018. Peningkatan tersebut ditopang bisnis kesehatan perseroan melalui PT Siloam International Hospiltals Tbk (SILO) yang naik 18,2% menjadi Rp 1,71 triliun dari Rp 1,44 triliun.


Bisnis lain perseroan yaitu development-properti dan malls-lain-lain juga tumbuh masing-masing 4,8% dan 1,9% menjadi Rp 650 miliar dan Rp 444 miliar.

Berbaliknya kinerja perseroan berhasil dilakukan bersamaan dengan momentum ditunjuknya darah keluarga Riady yaitu John Riady sebagai CEO sekaligus direktur perseroan dalam RUPS bulan lalu, meskipun posisi direktur utama masih dipegang Ketut Budi Wijaya. 

Sebelumnya, pendapatan perseroan belum pernah meningkat sejak 2017, bersamaan dengan laba bersihnya. 
 
Pos Keuangan (miliar Rp)1Q 20191Q 20181Q 20171Q 20161Q 2015
Pendapatan2,805.502,503.492,540.522,605.192,447.14
Laba bersih berjalan atribusi induk50.01132.80142.70308.70417.40
Aset53,832.2057,637.7346,050.7942,033.10
Ekuitas30,099.0129,925.1522,864.0819,489.93
ROA0.09%0.23%0.31%0.73%
ROE0.17%0.44%0.62%1.58%
Sumber: Lapkeu emiten, diolah  

Penurunan kinerja itu turut memperburuk rasio keuntungan terhadap aset (return on asset, ROA) dan keuntungan terhadap modal saham (return on equity, ROE) sehingga semakin lama semakin kecil, sehingga profitabilitas investor yang sudah menggenggam sahamnya sejak 2016 semakin turun. 

Dengan nilai aset yang relatis sama atau sedikit lebih kecil, investor tentu berharap aset perusahaan yang sebesar itu mampu mencetak laba yang lebih besar rasionya. 

Sebagai pembanding, ROA PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) tercatat 1,18% dan ROE 1,99% pada kuartal I-2019, dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA) yang memiliki aset sedikit lebih kecil yaitu Rp 34,44 triliun dan ekuitas Rp 17,18 triliun mampu memiliki ROA 0,82% dan ROE 1,67%. 

Meskipun demikian, sisi keuangan LPKR periode ini semakin kuat dibanding sebelumnya. Perbaikan ditunjukkan oleh bertambahnya kas perseroan dari pembelian lebih awal (advance subscription) rencana penawaran umum terbatas IV (rights issue IV) yang belum terlaksana serta tender offer obligasi yang sudah berlangsung. 

Pembelian saham yang baru akan diterbitkan senilai US$ 280 juta (setara Rp 3,98 triliun) dari total US$ 730 juta (setara Rp 10,38 triliun) tersebut memang tidak umum di pasar saham. 

Tender offer pelunasan obligasi lebih awal (early maturity, buyback) memang sudah berlangsung meskipun tidak banyak investor efek surat utang perseroan yang bersedia melepas untuk pelunasan lebih awal, yaitu hanya US$ 8,67 juta dari target US$ 150 juta. 

Namun, langkah berani perseroan dalam aksi advance subscription rights issue itu sukses memperkuat neraca keuangan sehingga menurunkan risiko akibat tingginya utang. 

Tingginya utang LPKR menjadi perhatian investor mengingat perseroan masih memiliki utang melalui beberapa obligasi global yang beredar senilai US$ 901,33 juta (setara Rp 12,83 triliun), dan pada akhir Januari tahun ini peringkat utang perseroan diturunkan ke level junk yaitu CCC+ dari B- oleh lembaga pemeringkat global Standard&Poor's (S&P).  


TIM RISET CNBC INDONESIA (irv/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading