Laba BUMI Q1-2019 Anjlok 46,27%, Ini Penyebabnya

Market - Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
30 April 2019 15:03
Laba BUMI Q1-2019 Anjlok 46,27%, Ini Penyebabnya
Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten batu bara, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membukukan kinerja keuangan kuartal pertama 2019 yang mengecewakan. Pasalnya, laba bersih perusahaan anjlok hampir setengahnya (46,27% YoY) dari capaian periode yang sama tahun lalu.

Hingga akhir Maret 2019, BUMI hanya mencatatkan laba bersih senilai US$ 48,44 juta atau setara Rp 687,86 miliar (Kurs Rp 14.200/US$). Alhasil margin bersih perusahaan yang pada kuartal I-2018 mencapai 29,04% harus tergerus menjadi hanya 20,69% pada kuartal I-2019.

Meskipun demikian, capaian laba bersih tersebut sudah lebih baik dibanding perolehan kuartal sebelumnya. Di kuartal IV-2018, perusahaan harus pasrah hanya mengantongi keuntungan sebesar US$ 15,1 juta.

Lebih lanjut, beberapa faktor pemicu anjloknya laba bersih perusahaan pada 3 bulan pertama tahun ini, yaitu penurunan pada total penjualan, tingginya proporsi beban pokok pendapatan, terkoreksinya pendapatan keuangan, dan rendahnya laba dari entitas ventura bersama.


Total penjualan BUMI sepanjang kuartal pertama tahun ini anjlok 24,58% secara tahunan menjadi US$ 234,16 juta dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 310,47 juta.

Jika dirinci, pos penjualan yang melemah paling signifikan adalah penjualan batu bara lokal yang turun 28,22% YoY menjadi hanya US$ 130,45 juta. Penjualan batu bara ekspor juga terkoreksi 19,91%, tapi untuk lini jasa konsultasi perusahaan justru naik 52,79% YoY.

Selain itu, walaupun beban pokok penjualan turun 17,78% secara tahunan menjadi US$ 165,65 juta, tapi proporsi terhadap total penjualan justru naik.

Pada kuartal I-2019, proporsi beban pokok penjualan mencapai 70,74% dari sebelumnya 64,89% di kuartal pertama tahun lalu. Peningkatan proporsi ini berhasil menggerus laba kotor perusahaan hingga turun 37,16% YoY. Jadi otomatis, laba bersih perusahaan semakin tertekan.

Kinerja keuangan BUMI semakin diperparah dengan anjloknya pendapatan keuangan dan laba dari entitas ventura bersama yang turun masing-masing 79,27% YoY dan 61,81% YoY.

Dengan peningkatan proporsi pada pos beban utama dan penurunan pada pos pemasukan, wajar saja jika kinerja bottom line (laba) lebih buruk dibanding kinerja top line (penjualan).

Sebagai informasi tambahan, Direktur BUMI Dileep Srivastava menyampaikan tahun ini perusahaan menargetkan pendapatan konsolidasi sebesar US$ 5 miliar.

Perlu dicatat bahwa pendapatan yang tercatat di atas adalah perolehan setelah penerapan Peryataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 66.

PSAK 66 mengatur pencatatan atas perusahaan ventura bersama yang mengakibatkan pendapatan PT Kaltim Prima Coal (KPC) tidak dikonsolidasikan tapi dihitung dengan metode ekuitas. Hasil perhitungan metode ekuitas tercatat di pos laba entitas asosiasi dan ventura bersama.

Dengan metode konsolidasi pendapatan KPC diikutsertakan, sehingga total penjualan BUMI menjadi US$ 1,12 miliar. Berarti, perusahaan sudah mampu mencapai 22,41% dari total target penjualan konsolidasi tahun ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA (dwa/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading