Sempat Menguat 2 Hari Beruntun, Euro Malah Turun Lagi

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
30 April 2019 14:51
Sempat Menguat 2 Hari Beruntun, Euro Malah Turun Lagi
Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang euro berhasil mencatat penguatan dua hari beruntun pada perdagangan Senin (29/4/19) kemarin, dan menjauhi level terendah 23 bulan yang dibentuk pada pekan lalu. Namun jelang dibukanya perdagangan sesi Eropa, Selasa (30/4/19), mata uang 19 negara ini justru kembali melemah.

Pada pukul 13:19 WIB, euro diperdagangkan di kisaran US$ 1,1178, turun dari penutupan Senin di kisaran US$ 1,1185 melansir kuotasi MetaTrader 5.



Dari Zona Euro, banyak data ekonomi yang akan memengaruhi pergerakan pasar forex hari ini, salah satunya rilis data pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto (PDB).


Badan Statistik Eropa (Eurostat) akan merilis data PDB Zona Euro kuartal I 2019 pada pukul 16:00 WIB, yang diprediksi sebesar 0,3%, mengutip data dari Forex Factory. Persentase pertumbuhan tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan kuartal IV 2018 sebesar 0,2%.

Data lain yang dirilis hari ini adalah PDB Spanyol yang diprediksi 0,6% sama dengan sebelumnya, dan inflasi Jerman bulan April yang diprediksi naik 0,5% lebih tinggi dari sebelumnya 0,4%

Data-data tersebut tentunya menjadi kabar bagus jika dirilis sesuai prediksi mengingat belakangan ini blok 19 negara dihantam isu pelambatan ekonomi yang membuat nilai mata uang euro terus merosot.

Penguatan euro dalam dua hari terakhir kemungkinan memicu aksi ambil untung atau profit taking yang membuat harga turun, mengingat belum ada fundamental yang bagus dari Zona Euro yang dapat menopang penguatan.



Menguatnya euro lawan dolar Amerika Serikat (AS), lebih karena data-data ekonomi dari Negeri Paman Sam yang kurang bagus.



Pada Senin kemarin Departemen Perdagangan AS melaporkan belanja konsumen naik 0,9% pada Maret, menjadi kenaikan terbesar dalam hampir 10 tahun terakhir.

Sebaliknya data inflasi inti yang dilihat dari pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) dilaporkan stagnan alias 0% di bulan Maret dibandingkan bulan sebelumnya. Akibat kenaikan harga-harga yang stagnan tersebut, secara year-on-year inflasi inti PCE turun menjadi 1,6% di bulan Maret dari bulan sebelumnya 1,7%, sekaligus menjadi kenaikan terendah sejak Januari 2018.



Data yang disebutkan terakhir merupakan acuan Federal Reserve (The Fed) dalam menetapkan kebijakan moneter, melambatnya inflasi inti PCE bisa jadi membuat The Fed mempertahankan sikap dovish-nya yang membuat dolar sedikit tertekan.


TIM RISET CNBC INDONESIA 


(pap/prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading