Penjualan Mobil Turun, Laba Astra Q1 Cuma Naik 5% Jadi Rp 5 T

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
24 April 2019 17:21
Penjualan Mobil Turun, Laba Astra Q1 Cuma Naik 5% Jadi Rp 5 T
Jakarta, CNBC Indonesia - Laba bersih PT Astra International Tbk (ASII) pada kuartal I-2019 naik tipis sebesar 5% dari periode yang sama tahun lalu. Kinerja anak usaha dari sektor otomotif dan agribisnis yang tertekan membuat kinerja Grup Astra agak terganggu.

Berdasarkan siaran pers yang diterima CNBC Indonesia, laba bersih Astra mencapai Rp 5,22 triliun, naik 5% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2018 sebesar Rp 4,98 triliun.

Pendapatan perseroan selama 3 bulan pertama tahun ini naik 7% menjadi Rp 59,61 triliun, dari sebelumnya Rp 55,82 triliun.


"Kinerja Grup cukup baik pada kuartal pertama 2019, didukung oleh peningkatan kontribusi dari bisnis jasa keuangan dan bisnis kontraktor penambangan, serta kontribusi dari bisnis tambang emas yang baru diakuisisi," kata Direktur Utama Astra Prijono Sugiarto, Rabu (24/04/2019).


Prijono menambahkan, tahun ini Astra diperkirakan masih akan menikmati kenaikan kontribusi dari bisnis-bisnis tersebut.

Meski demikian masih ada tantangan pada permintaan yang melemah dan persaingan yang ketat di pasar mobil serta penurunan harga komoditas.

Nilai aset bersih per saham tercatat sebesar Rp 3.503 pada 31 Maret 2019, 4% lebih tinggi dibandingkan posisi akhir tahun 2018.


Utang bersih perseroan, di luar Grup anak perusahaan jasa keuangan, mencapai Rp 15,2 triliun pada 31 Maret 2019, dibandingkan dengan Rp13,0 triliun pada 31 Desember 2018, terutama karena investasi Grup di Gojek.

Anak perusahaan segmen jasa keuangan mencatat utang bersih sebesar Rp 46,7 triliun pada 31 Maret 2019, dibandingkan dengan Rp47,7 triliun pada akhir tahun 2018.

Kinerja Anak Usaha
Laba bersih dari bisnis otomotif Grup turun 10% menjadi Rp 1,9 triliun disebabkan penurunan volume penjualan mobil dan kenaikan biaya material pada bisnis manufaktur.

Penjualan mobil secara nasional turun 13% menjadi 254.000 unit. Namun, penjualan mobil Astra hanya turun 5% menjadi 134.000 unit, sehingga pangsa pasar Astra meningkat dari 49% menjadi 53% pada kuartal I-2019.

Grup telah meluncurkan enam model baru dan dua model revamped (penyegaran) selama periode ini.

Penjualan sepeda motor secara nasional meningkat 19% selama 2 bulan pertama tahun 2019, dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2018.

Informasi terkait besarnya pasar sepeda motor nasional periode bulan Maret 2019 saat ini masih belum tersedia. Penjualan nasional PT Astra Honda Motor (AHM) meningkat 19% menjadi 1,3 juta unit. Grup telah meluncurkan dua model baru dan 12 model revamped selama periode ini.

Laba bersih dari segmen agribisnis Grup turun sebesar 89% menjadi Rp30 miliar. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) yang 79,7% sahamnya dimiliki perseroan, mencatat penurunan laba bersih pada kuartal I-2019 sebesar 89% menjadi Rp 37 miliar.

Penurunan laba disebabkan penurunan harga minyak kelapa sawit sebesar 20% menjadi Rp 6.252/kg dibandingkan dengan rata-rata pada kuartal pertama tahun 2018.

Penurunan tersebut belum dapat diimbangi oleh kenaikan volume penjualan minyak kelapa sawit dan produk turunannya sebesar 25% menjadi 599.000 ton.

Laba bersih dari divisi alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi Grup meningkat 20% menjadi Rp 1,8 triliun.

PT United Tractors Tbk (UNTR), yang 59,5% sahamnya dimiliki perseroan, mencatat kenaikan laba bersih 21% menjadi Rp 3,1 triliun dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2018.

Kenaikan ini terutama disebabkan oleh peningkatan kinerja pada bisnis kontraktor penambangan dan kontribusi dari operasi penambangan emas yang diakuisisi pada bulan Desember 2018.

Pada bisnis mesin konstruksi, penjualan alat berat Komatsu meningkat 1% menjadi 1.181 unit, sementara pendapatan dari suku cadang dan jasa pemeliharaan juga meningkat.

Bisnis kontrakor penambangan yang sepenuhnya dimiliki Grup, PT Pamapersada Nusantara (PAMA), mencatat kenaikan volume pengupasan lapisan tanah (overburden removal) sebesar 14% menjadi 235 juta bank cubic meter serta peningkatan produksi batu bara sebesar 15% menjadi 31 juta ton.

Anak perusahaan batu bara UNTR melaporkan penurunan penjualan batu bara sebesar 4% menjadi 2,5 juta ton, termasuk penjualan 325.000 ton coking coal dari PT Suprabari Mapanindo Mineral (SMM), yang 80,1% sahamnya dimiliki UNTR.

PT Agincourt Resources, anak perusahaan yang 95% sahamnya dimiliki UNTR, melaporkan penjualan emas sebesar 97.000 ons pada kuartal pertama 2019.

Perusahaan kontraktor umum yang 50,1% sahamnya dimiliki UNTR, PT Acset Indonusa Tbk (ACST), melaporkan rugi bersih sebesar Rp 91 miliar, dibandingkan dengan laba bersih sebesar Rp39 miliar yang dicatat pada kuartal pertama tahun lalu, terutama disebabkan kenaikan biaya konstruksi dan pendanaan atas beberapa proyek yang sedang berjalan.

PT Bhumi Jati Power (BJP), yang 25% sahamnya dimiliki UNTR, sedang dalam proses konstruksi dua pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkapasitas masing-masing 1.000 MW di Jawa Tengah, dan dijadwalkan mulai beroperasi pada tahun 2021.

Divisi infrastruktur dan logistik Grup melaporkan laba bersih sebesar Rp16 miliar, dibandingkan dengan rugi bersih sebesar Rp23 miliar pada kuartal pertama 2018. Hal ini terutama disebabkan oleh peningkatan pendapatan dari operasional jalan tol.

Laba bersih dari segmen teknologi informasi Grup mencatat penurunan 26% menjadi Rp20 miliar.

PT Astra Graphia Tbk (AG), yang 76,9% sahamnya dimiliki perseroan, melaporkan penurunan laba bersih sebesar 26% menjadi Rp 26 miliar yang disebabkan peningkatan biaya operasi meskipun pendapatan segmen bisnis solusi dokumen dan solusi perkantoran mengalami peningkatan.

Divisi properti Grup melaporkan laba bersih sebesar Rp 15 miliar, dibandingkan dengan laba bersih sebesar Rp6 miliar pada kuartal pertama tahun lalu, terutama karena kenaikan laba bersih dari Menara Astra.

(hps/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading