Harga Minyak Dunia Makin Panas, Bahayakah?

Market - Bernhart Farras, CNBC Indonesia
24 April 2019 08:24
Harga Minyak Dunia Makin Panas, Bahayakah?
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah dunia naik secara perlahan pada perdagangan Selasa kemarin (23/4/2019). Kenaikan harga minyak dunia masih ditopang sentimen langkah Amerika Serikat yang menghentikan keringanan sanksi atas impor minyak Iran.

Pada pukul 08:30 WIB kemarin, harga Brent untuk patokan pasar Asia dan Eropa, kontrak pengiriman Juni menguat 0,35% ke posisi US$ 74,3/barel yang merupakan posisi tertinggi sejak 1 November 2018. Adapun harga minyak jenis, light sweet (WTI) untuk patokan pasar Amerika, naik 0,14% ke posisi US$ 65,79/barel.


Penguatan harga minyak masih terus terjadi setelah awal pekan sempat meroket. Saat itu, Brent dan WTI ditutup menguat masing-masing sebesar 2,88% dan 2,66%.


Awal pekan ini pemerintah AS mengonfirmasi pencabutan keringanan sanksi atas Iran. Reuters melaporkan bahwa Gedung terang-terangan meminta kepada seluruh pembeli minyak Iran untuk tidak mengimpor lagi minyak dari negara itu mulai tanggal 1 Mei mendatang. Bila tidak diindahkan, AS mengancam akan memberi sanksi.

Sebenarnya sanksi AS atas Iran sudah mulai diberlakukan kembali sejak November 2018. Kala itu Iran menolak menghentikan program nuklir. Namun AS masih memberikan keringanan dengan mengizinkan delapan negara (China, India, Jepang,
Korea Selatan, Taiwan, Turki, Italia, dan Yunani) untuk mengimpor minyak asal Negeri Persia itu.

Namun kini sanksi tersebut akan kembali berlaku penuh. Bahkan AS berniat untuk memangkas ekspor minyak Iran sampai titik nol


Dengan adanya keringanan, ekspor minyak Iran sebenarnya sudah terpangkas cukup banyak. Berdasarkan data Refinitiv, jumlah ekspor minyak Iran pada Maret lalu hanya sebesar 1,68 juta barel/hari. Bahkan pada April ini masih kurang dari 1 juta barel/hari.


Padahal sebelum adanya sanksi, Iran merupakan produsen minyak terbesar keempat di antara anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dengan kapasitas hampir mencapai 3 juta barel/hari.


Selain itu, AS juga masih memberlakukan sanksi terhadap Venezuela, membuat pasokan dunia semakin ketat. Dengan adanya konflik politik, seluruh penduduk AS (baik perorangan maupun perusahaan) dilarang untuk melakukan transaksi minyak dengan Venezuela.

Alhasil, Venezuela sulit untuk melepas pasokan minyaknya ke pasar, karena diketahui AS merupakan tujuan ekspor minyak yang
utama.


Beralih ke Afrika, konflik bersenjata yang masih terjadi di Libya juga ikut berperan mengurangi pasokan minyak global. Mengutip CNN, perang saudara yang berpusat di Ibu Kota Tripoli sampai saat ini sudah menewaskan 121 orang dan melukai 561 lainnya.

Keadaan konflik sudah tentu tidak baik bagi aktivitas pengeboran minyak. Produksi minyak Libya berpeluang besar terpangkas cukup dalam.

Akan tetapi sejumlah gangguan pasokan minyak yang tak terduga, juga berpotensi membuat OPEC dan sekutunya meningkatkan produksi setelah tengah tahun ini.


Pasalnya kesepakatan OPEC+ (OPEC dan sekutunya termasuk Rusia) untuk memangkas produksi hingga 1,2 juta barel/hari hanya berlaku sampai akhir Juni 2019.


Harga Minyak Makin Menggila, Bahayakah?Foto: Petugas memeriksa mobil tanki yang dibajak usai diamankan di Kawasan Monumen Nasional, Jakarta, Senin (18/3/2019). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Apa langkah Pertamina?

Kendati demikian, naiknya harga minyak tidak serta-merta membuat PT Pertamina (Persero) melakukan penyesuaian dengan menaikkan harga jual BBM non-subsidi mereka.

Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia, misalnya, harga jual Pertamax masih Rp 9.850 per liter, dan Pertamax Turbo masih di Rp 11.200 per liter di wilayah Jabodetabek, pekan ini.


VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman menjelaskan, alasan perusahaan untuk tidak menaikkan harga BBM non-subsidi yakni karena mempertimbangkan banyak aspek.


"Untuk harga BBM tetap sesuai dengan arahan pemerintah. Belum ada kajian untuk menaikkan harga," ujar Farjriyah ketika dihubungi CNBC Indonesia, Selasa (23/4/2019).


"Kalau Pertamina mau melakukan penyesuaian pun banyak pertimbangan, karena kami kan tidak murni profit oriented seperti SPBU lain. Kami harus menjalankan peran untuk availability dan affordability," pungkasnya.



SPBU Asing Naikkan Harga

Di sisi lain, stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) selain Pertamina telah melakukan penyesuaian harga jual BBM mereka.

Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia, terdapat beberapa SPBU yang melakukan penyesuaian harga. 
Contohnya, Shell yang sejak 5 April sudah menjual bensin jenis Super (Ron 92) mereka di harga Rp 10.350 per liter, dari yang sebelumnya Rp 9.900 per liter, dan Shell V-Power (ron 95) di harga Rp 11.450 per liter, naik dari Rp 10.950 per liter.

Begitu pula dengan harga jual BBM di SPBU BP. Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia di SPBU BP BSD, Tangerang Selatan, harga jual untuk BBM jenis BP 92 juga naik dari Rp 9.900 per liter menjadi Rp 10.350 per liter, dan BP 95 naik dari Rp 10.950 per liter, menjadi Rp 11.450 per liter.

 
(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading