Morgan Stanley: BI Bakal Turunkan Bunga Acuan, Bank Kian Cuan

Market - Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
15 April 2019 12:09
Morgan Stanley: BI Bakal Turunkan Bunga Acuan, Bank Kian Cuan Ilustrasi ATM Bank Himbara (CNBC Indonesia/M Sabki)
Jakarta, CNBC Indonesia - Salah satu bank investasi ternama dunia, Morgan Stanley (MS) memberikan lampu hijau bagi investor yang ingin menanamkan modal di sektor perbankan Indonesia. Perbankan Tanah Air masih berada dalam siklus cuan.

Dalam laporan berjudul Growth and Liquidity Cycles in Indonesia yang dikutip Senin (15/4/2019), Morgan Stanley menyebut sektor perbankan di Indonesia merasakan dampak positif dari tren kebijakan moneter global yang cenderung kalem alias dovish. Misalnya Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve/The Fed yang kemungkinan  besar tidak akan menaikkan suku bunga acuan sampai akhir 2019.

Baca:
Yang di Washington Dovish, MH Thamrin Macam Mana?


Ekonom Asia Deyi Tan menyampaikan bahwa besar kemungkinan pada kuartal III-2019, Bank Indonesia (BI) akan menurunkan suku bunga acuan hingga 75 basis poin (bps) menjadi 5,25%. Penurunan ini menurut Tan sebagai respon atas sikap The Fed yang dovish, inflasi rendah, dan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang menyempit.

Sepanjang tahun ini, The Fed diperkirakan akan terus menahan suku bunga acuannya di kisaran 2,25-2,5%. Jika The Fed bersikap lebih dovish atau anteng, tentunya semakin besar peluang BI untuk juga ikut memangkas suku bunga acuannya.

Alhasil, industri perbankan tentunya diuntungkan karena Marjin bunga bersih/Net Interest Margin (NIM) bisa dijaga supaya tidak tertekan seperti yang terjadi pada tahun 2018.

Sepanjang 2018, NIM sektor perbankan kompak tertekan lantaran kenaikan suku bunga acuan sebesar 175 bps yang dieksekusi oleh Bank Indonesia (BI), merespons normalisasi The Fed sebesar 100 bps.

Selain itu, rencana BI untuk menaikkan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) menjadi 84-94% per Juli tahun ini, juga dapat menyokong penurunan loan-to-deposit-ratio (LDR). Jika NIM dan LDR bisa dijaga supaya tidak tertekan, tentu pendapatan dan laba bersih sektor perbankan akan bisa dijaga.

Lebih lanjut, rendahnya suku bunga, dan melebarnya RIM berpotensi mendorong pertumbuhan pinjaman konsumen tahun ini yang akhirnya dapat mendorong pemangkasan biaya kredit. MS memproyeksikan bahwa biaya kredit 2019 dapat turun 20-25 bps.

Pemangkasan biaya kredit tersebut, yang kemudian diharapkan mampu untuk mempercepat pertumbuhan pinjaman sektor usaha sehingga menjadi motor peningkatan investasi di tanah air.

Di lain pihak, permodalan perbankan akan semakin baik dengan menyempitnya CAD dan rendahnya inflasi. Pasalnya dengan CAD yang semakin kecil dan inflasi yang rendah, maka nilai tukar mata rupiah akan cenderung lebih stabil, bahkan bisa mendorong apresiasi.



Stabil dan atau terapresiasinya rupiah akan menarik pelaku pasar untuk menginvestasikan dananya pada aset-aset berbasis rupiah, baik itu aset aman seperti deposito dan obligasi, maupun aset beresiko seperti pasar saham.

Di akhir laporannya, MS memberikan rekomendasi untuk emiten PT Bank Negara Indonesia Tbk/BBNI dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk/BBRI. Alasannya, NIM kedua bank tersebut dianggap akan paling diuntungkan atas penurunan suku bunga acuan.

Terlebih lagi, BBRI dan BBNI juga memiliki nilai beta yang tinggi diantara bank BUKU IV dengan nilai masing-masing 1,61 dan 1,85 poin, dilansir Refinitiv

Sebagai informasi beta menggambarkan sensitivitas perubahan imbal hasil (yield) emiten terhadap pergerakan indeks di mana emiten tersebut diperdagangkan. Semakin tinggi beta saham suatu emiten maka semakin besar pula tingkat risikonya. Akan tetapi, semakin tinggi risiko aset investasi, makin besar pula imbal hasilnya.


TIM RISET CNBC INDONESIA


(dwa/aji)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading