Yield Obligasi Jerman Anjlok, Dolar Kembali Kuat

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
28 March 2019 20:00
Yield Obligasi Jerman Anjlok, Dolar Kembali Kuat
Jakarta, CNBC Indonesia - Dolar sekali lagi menunjukkan kekuatan terhadap mata uang utama meski masih mengalami inversi yield obligasi tenor 3 bulan dan 10 tahun. Yield obligasi AS tenor 10 tahun terus mengalami penurunan, sementara tenor 3 bulan mengalami kenaikan hingga lebih tinggi dari tenor 10 tahun. Fenomena ini dikenal sebagai inversi yang dijadikan indikator kemungkinan resesi AS.

Namun AS tidak sendiri mengalami penurunan yield tenor 10 tahun, Jerman juga mengalami hal yang sama yang berdampak pada pelemahan mata uang euro. 

Yield obligasi Jerman tenor 10 tahun (Bund) turun hingga menyentuh level terendah sejak Oktober 2016 di kisaran -0,086% pada Rabu (28/3/19) kemarin. Sementara pada hari ini pukul 19:37 WIB yield Bund berada di kisaran -0,085%, dan euro bergerak di kisaran US$ 1,1225 atau melemah 0,20%. Di sisi lain dolar indeks naik ke kisaran 97,10 (+0,34%).


Di tahun 2016 ketika yield Bund serendah itu, European Central Bank (ECB) menambah gelontoran stimulus moneter dengan melakukan pembelian aset atau yang dikenal dengan quantitative easing hingga senilai 80 miliar euro per bulan. Langkah tersebut diambil ECB untuk memacu perekonomian Zona Euro dan menaikkan inflasi.

Euro merupakan kontributor terbesar dalam membentuk indeks dolar yakni sebesar yakni sebesar 57,6%. Mata uang lainnya yang turut membentuk indeks ini adalah yen (13,6%), poundsterling (11,9%), dolar Kanada (9,1%), krona Swedia (4,2%) dan franc Swiss (3,6%).

Indeks dolar AS sering digunakan untuk mengukur kekuatan mata uang negara Paman Sam tersebut, yang dapat mempengaruhi sentimen pelaku pasar.

Turunnya yield obligasi di berbagai negara menunjukkan kecemasan pelaku pasar akan resesi yang semakin menguat. Sepanjang pekan ini isu ini menjadi tajuk utama di pasar finansial.

Rilis pembacaan final atau terakhir data pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) AS menunjukkan jika perekonomian memang sedang melambat. Departemen Perdagangan AS pada pukul 19:30 WIB melaporkan pada kuartal-IV 2018, PDB AS sebesar 2,2% atau mengalami revisi dari rilis sebelumnya sebesar 2,6%.

Namun rilis data ini sepertinya tidak terlalu berdampak pada pergerakan dolar, mengingat Federal Reserve (The Fed) AS sebelumnya telah mengkonfirmasi adanya pelambatan ekonomi. Pelaku pasar kini lebih berfokus pada pergerakan yield obligasi di negara-negara maju.

TIM RISET CNBC INDONESIA  (pap/wed)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading