Kinerja Anak Usaha Mengecewakan, Laba SPTO Anjlok 9%

Market - Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
28 March 2019 17:11
Sayangnya, pertumbuhan positif pada pos penjualan tidak sejalan dengan pergerakan laba bersih perusahaan. Foto: Dok. TOTO Museum
Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten distributor eksklusif produk sanitasi asal Jepang, TOTO, PT Surya Pertiwi Tbk (SPTO) hanya mampu mencatatkan kenaikan penjualan 5,9% year-on-year (YoY) menjadi Rp 2,27 triliun dari yang sebelumnya Rp 2,14 triliun.

Jika ditilik lebih detil, perolehan penjualan perusahaan mayoritas masih berasal dari penjualan barang lokal, yaitu 88,42% atau setara Rp 2 triliun. Kemudian diikuti oleh penjualan barang impor sebesar Rp 248,46 miliar (10,95%) dan pendapatan usaha sewa gedung sebesar Rp 12,11 miliar (0,62%).

Sayangnya, pertumbuhan positif pada pos penjualan tidak sejalan dengan pergerakan laba bersih perusahaan.


Tahun 2018, laba bersih SPTO anjlok 8,6% YoY menjadi Rp 206,03 miliar dari yang sebelumnya Rp 225,43 miliar. Besar kemungkinan, kinerja yang kurang oke tersebut tekanan dari pos pembiayaan.

Keuangan perusahaan tertekan karena kerugian atas selisih kurs dan beban bunga yang tercatat tahun lalu lebih tinggi dibandingkan tahun 2017.

Rugi selisih kurs tahun lalu, naik hampir 4 kali lipat, menjadi Rp 17,62 miliar dari Rp 4,91 miliar. Selain itu, beban bunga juga tumbuh 3 kali lipat menjadi Rp 19,08 miliar dari Rp 9,05 miliar.

Terlebih lagi, dari pos beban penjualan, biaya promosi dan tur yang dicatatkan pada tahun 2018 lebih tinggi dibandingkan tahun 2017. Dana promosi dan tur yang dikeluarkan untuk tahun 2018 juga tumbuh signifikan sebesar 51,2% YoY menjadi Rp 39,87 miliar dari yang sebelumnya hanya Rp 26,37 miliar di tahun 2017.

Lebih lanjut, meskipun akhirnya dua anak usaha SPTO, yaitu PT Surya Pertiwi Nusantara (SPN) dan PT Surya Graha Pertiwi (SGP), telah resmi beroperasi tahun lalu, keduanya belum menunjukkan performa yang memuaskan.

SPTO belum berhasil mengantongi apapun dari kinerja dua anak usahanya karena SGP masih mencatatkan kerugian Rp 17,34 miliar, sedangkan SPN hanya mampu membukukan laba Rp 13 miliar. Alhasil, jika ditotal, anak usaha SPTO masih mencatatkan kerugian sekitar Rp 4 miliar di tahun 2018.

Di lain pihak, dana yang baru dihimpun perusahaan juga belum mampu terserap maksimal.

Pada bulan Mei tahun lalu, perusahaan tercatat menghimpun dana Rp 812 miliar dengan menerbitkan 700 juta lembar saham baru pada harga penawaran Rp 1.160. Penghimpunan dana tersebut berfungsi untuk membayar hutang dan menyokong aktifitas operasional anak usaha.

Di akhir periode tersebut total aset perusahaan naik 22,77% YoY menjadi Rp 2,48 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 2,02 triliun. Terdiri dari aset lancar Rp 1,13 triliun dan aset tak lancar Rp 1,35 triliun

Liabilitas perseroan pada 2018 turun 27,58% YoY menjadi Rp 902,96 miliar, dari akhir 2017 yang sebesar Rp 1,25 triliun. Dengan liabilitas jangka pendek senilai Rp 641,09 miliar dari sebelumnya Rp 261,87 miliar

Sementara nilai ekuitas di periode tersebut tercatat mencapai Rp 1,58 triliun.

TIM RISET CNBC INDONESIA
Artikel Selanjutnya

Strategi 'New Normal' TOTO Hadapi Dampak Pandemi


(dwa/hps)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading