Sentimen Masih Mixed, Harga Emas Masih di Zona Merah

Market - Taufan Adharsyah, CNBC Indonesia
20 March 2019 12:10
Sentimen Masih Mixed, Harga Emas Masih di Zona Merah
Jakarta, CNBC Indonesia - Pada perdagangan Rabu siang ini (20/3/2019), pergerakan harga emas masih berada di zona merah.
Hingga pukul 11:00 WIB, harga emas kontrak April di bursa New York Commodity Exchange (COMEX) melemah sebesar 0,14% ke posisi US$ 1.304,7/troy ounce, setelah menguat 0,38% kemarin (19/3/2019).

Adapun harga emas di pasar spot juga amblas 0,15% ke posisi US$ 1.394,4/troy ounce, setelah menguat 0,22% pada perdagangan kemarin.

Selama sepekan harga emas di bursa COMEX dan spot telah menguat sebesar 0,35%. Sedangkan sejak awal tahun rata-rata kenaikan harga keduanya sebesar 1,76%.




Penurunan harga emas erat kaitannya dengan nilai tukar dolar yang menguat pada pagi hari ini. Hingga pukul 11:00 WIB, nilai Dollar Index (DXY) yang mencerminkan posisi greenback terhadap enam mata uang utama dunia naik 0,1% ke posisi 96,47.

Kenaikan DXY kuat diduga disebabkan oleh faktor-faktor teknikal. Pasalnya, setelah tertekan cukup lama, minat investor untuk kembali mengoleksi dolar bisa kembali membuncah.

Bahkan dalam sebulan terakhir, nilai DXY sudah turun sebesar 0,45%, membuat harga dolar relatif murah.

Saat dolar menguat, maka harga emas akan menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Kilau emas pun meredup.

Namun sejatinya emas masih punya potensi menguat. Dari sisi fundamental, sederet peristiwa bisa menguntungkan bagi emas.

Salah satunya adalah penantian pelaku pasar akan hasil rapat Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed yang akan diumukan pada Kamis (21/3/2019) dini hari waktu Indonesia.

Meskipun hasil intinya sudah dapat diprediksi, yaitu tidak ada kenaikan suku bunga sama sekali, alias tetap pada rentang 2,25-2,5%, pelaku pasar menantikan pidato dari Gubernur The Fed, Jerome Powell yang akan memproyeksi keadaan perekonomian AS.

Bila gelagat-gelagat nan dovish makin kuat terasa dalam pidato tersebut, maka dolar berpeluang makin melemah.

Pasalnya kenaikan suku bunga bisa memberikan daya tarik di pasar keuangan AS, terutama obligasi. Bila kenaikan suku bunga ditahan untuk waktu yang lama, investasi pada aset-aset yang berbasis dolar makin tak menarik. Aliran modal akan keluar dari AS, menuju negara-negara berkembang.

Selain itu, sentimen dari perkembangan damai dagang AS-China juga agaknya masih mixed.

Sebelumnya, Bloomberg melaporkan bahwa kemungkinan China menolak memenuhi permintaan AS telah membuat beberapa orang pejabat di Washington khawatir, seperti yang dilansir dari Reuters.

Kabar tersebut membuat investor makin mencemaskan nasib dari damai dagang. Potensi batalnya kesepakatan antara kedua negara ternyata masih ada dan kuat membayangi.

Bila benar batal, Gedung Putih sebelumnya sudah bermaklumat untuk menaikkan bea impor produk asal China senilai US$ 200 miliar menjadi 25% (dari yang semula 10%) bila tidak ada kesepakatan apapun dengan China.

Kalau sudah begitu, Negeri Tirai Bambu tentu akan membalas. Ekonomi dunia akan tenggelam lebih dalam sebagai akibat damai dagang jilid II.

Kondisi penuh ketidakpastian seperti itu akan mendorong investor untuk bermain aman. Emas menjadi salah satu pilihan safe haven yang biasa menjadi pelindung nilai.

Namun pada dini hari tadi sebuah kabar dari pejabat administrasi pemerintah AS mengatakan bahwa Perwakilan Dagang AS, Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin telah merencanakan perjalanan ke China pada minggu depan untuk melanjutkan perundingan dagang dengan Wakil Perdana Menteri China, Liu He, mengutip Reuters.

Rencana dialog tersebut setidaknya dapat mengikis kekhawatiran pelaku pasar. Sebab kedua negara terlihat serius untuk mencegah terjadinya keretakan hubungan akibat perseteruan perdagangan.

Bila kesepakatan dapat cepat diteken, maka ekonomi dunia berpotensi melaju kencang. Saat itu terjadi, maka investor bisa kembali agresif berinvestasi pada instrumen-instrumen berisiko. Emas yang relatif menghasilkan keuntungan lebih rendah akan ditinggalkan.

TIM RISET CNBC INDONESIA (taa/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading