Menanti Hasil Rapat The Fed, Obligasi Rupiah Lanjut Menguat

Market - Taufan Adharsyah, CNBC Indonesia
18 March 2019 20:15
Menanti Hasil Rapat The Fed, Obligasi Rupiah Lanjut Menguat
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi rupiah pemerintah tercatat menguat pada perdagangan hari Senin (18/3/2019). Minat investor pada pasar keuangan dalam negeri dipicu oleh beberapa sentimen positif terkait perekonomian global.

Xinhua News Agency pada hari Jumat (15/3/2019) melaporkan bahwa AS dan China telah membuat perkembangan yang konkret terkait penulisan kesepakatan dagang kedua negara, seperti dilansir dari South China Morning Post.

Sebelumnya, dalam pidato di sidang tahunan parlemen China, Perdana Menteri Li Keqiang juga menegaskan bahwa pemerintah akan menerapkan aturan baru mengenai investasi. Dalam aturan tersebut, China berkomitmen untuk melindungi investasi (termasuk asing) dan tidak akan mewajibkan transfer teknologi.


Proses dan pelaksanaan investasi akan dibuat transparan, sehingga menciptakan iklim yang nyaman bagi dunia usaha. Aturan tersebut sudah disahkan oleh parlemen dan akan mulai berlaku pada 1 Januari 2020. Sebelumnya, permasalahan transfer teknologi secara paksa ini sering dikeluhkan oleh Presiden AS Donald Trump.

Pelaku pasar juga memprediksi nada-nada 'sabar' akan kembali terdengar dari ucapan Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), Jerome Powell, usai rapat bulanan yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa-Rabu (19-20/3/2019).

Pasalnya, pada Februari, output industrial Amerika Serikat (AS) hanya naik sebesar 0,1%. Jauh dari konsensus pasar yang memprediksi peningkatan hingga 0,4%, mengutip Reuters. Saat perekonomian AS masih belum pulih benar, maka kemungkinan besar The Fed akan menahan suku bunganya.

Sebuah survei yang dilakukan oleh CME, memperkirakan kemungkinan The Fed untuk menahan suku bunganya pada level yang sekarang (tidak naik) mencapai 98,7%.
Alhasil, dolar tidak akan punya cukup daya tarik untuk lama-lama disimpan.

Aliran modal pun beterbangan ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
 Seperti yang telah diketahui sebelumnya, pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder.

Data Refinitiv menunjukkan penguatan harga SUN yang mana tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menurunkan tingkat imbal hasilnya (yield).  Yield juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.

SUN adalah Surat Berharga Negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum.

Keempat seri yang menjadi acuan itu adalah FR0063 bertenor 5 tahun, FR0064 bertenor 10 tahun, FR0065 bertenor 15 tahun, dan FR0075 bertenor 30 tahun.

Penguatan harga terjadi paling besar di seri FR0077 yang bertenor 5 tahun, dengan penurunan yield 7,0 basis poin (bps) menjadi 7,324%. Sebagai informasi besaran 100 bps setara dengan 1%.

Yield Obligasi Negara Acuan 18 Mar 2019
SeriJatuh tempoYield 15 Mar 2019 (%)Yield 18 Mar 2019 (%)Selisih (basis poin)Yield wajar IBPA 18 Mar 2019
FR00775 tahun7,3947,324-7,007,2638
FR007810 tahun7,8027,739-6,307,684
FR006815 tahun8,1228,094-2,808,0414
FR007920 tahun8,2388,191-4,708,1419
Avg movement-5,20
Sumber: Refinitiv

Menguatnya harga di pasar obligasi pemerintah hari ini tercermin pada harga obligasi wajarnya, di mana indeks INDOBeX Government Total Return milik PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI/IBPA) masih menguat. Indeks tersebut naik 0,50 poin (0,21%) menjadi 240,89 dari posisi kemarin 244,83.

Penguatan SBN hari ini membuat selisih (spread) obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun dengan surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor serupa mencapai 513,6 bps, menyempit dari posisi akhir pekan yang sebesar 517 bps.

Yield US Treasury 10 tahun turun lagi hingga 2,603% dari posisi akhir pekan (15/3/2019) yang sebesar 2,632%.

Terkait dengan pasar US Treasury, saat ini masih terjadi inversi antara seri 2 tahun dengan 5 tahun dan 3 tahun dengan 5 tahun, yaitu lebih tingginya yield seri lebih pendek dibanding seri lebih panjang.

Inversi tersebut membentuk kurva yield terbalik (inverted yield curve), yang menjadi cerminan investor yang lebih meminati US Treasury seri panjang dibanding yang pendek karena menilai akan terjadi kontraksi jangka pendek, sekaligus indikator adanya potensi tekanan ekonomi bahkan hingga krisis.

Yield US Treasury Acuan 18 Mar 2019
SeriBenchmarkYield 15 Mar 2019 (%)Yield 18 Mar 2019 (%)Selisih (Inversi)Satuan Inversi
UST BILL 20193 Bulan2,4452,4453 bulan-5 tahun3,8
UST 20202 Tahun2,4652,4442 tahun-5 tahun3,7
UST 20213 Tahun2,4212,4003 tahun-5 tahun-0,7
UST 20235 Tahun2,4322,4073 bulan-10 tahun-15,8
UST 202810 Tahun2,6322,6032 tahun-10 tahun-15,9
Sumber:Refinitiv


Dari pasar surat utang negara berkembang penguatan harga terjadi hampir di semua negara. Hanya Malaysia saja yang tidak naik. Namun setidaknya tidak pula melemah. Sedangkan di mayoritas obligasi pemerintah di negara maju juga ikut menguat. Hanya Jerman saja yang harus puas dengan pelemahan harga obligasi.

Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Negara Maju & Berkembang
NegaraYield 15 Mar 2019 (%)Yield 18 Mar 2019 (%)Selisih (basis poin)
Brasil8,8458,800-4,50
China3,1553,153-0,20
Jerman0,0960,0970,10
Perancis0,4690,4690,00
Inggris 1,2331,217-1,60
India7,5017,480-2,10
Jepang-0,036-0,0360,00
Malaysia3,8533,8530,00
Filipina6,2836,199-8,40
Rusia8,448,320-12,00
Singapura2,1992,165-3,40
Thailand2,562,550-1,00
Amerika Serikat2,6322,607-2,50
Afrika Selatan8,7158,685-3,00
Sumber: Refinitiv

TIM RISET CNBC INDONESIA  (taa/taa)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading