Bursa Saham Asia Dilanda Sell-Off, Ada Apa?

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
08 March 2019 09:25
Bursa Saham Asia Dilanda Sell-Off, Ada Apa?
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham utama kawasan Asia dilanda sell-off atau ramai aksi jual pada perdagangan hari ini, Jumat (8/3/2019). Pada saat pembukaan perdagangan, indeks Nikkei melemah 0,54%, indeks Shanghai anjlok 2,19%, indeks Hang Seng terkoreksi 1,29%, indeks Straits Times terpangkas 0,78%, dan indeks Kospi melemah 0,6%.

Awan gelap yang menyelimuti perekonomian zona euro membuat pelaku pasar dengan gencar melepas instrumen berisiko seperti saham.

Kemarin (7/3/2019), European Central Bank (ECB) memutuskan untuk menahan tingkat suku bunga acuan di level 0%. ECB bahkan memperkirakan bahwa tidak akan ada kenaikan hingga akhir tahun. Padahal, sebelumnya ECB memperkirakan kenaikan suku bunga acuan sudah bisa dieksekusi mulai pertengahan tahun ini.



"Kami memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan. Kami juga memperkirakan suku bunga acuan tidak berubah setidaknya sampai akhir 2019 dan bahkan selama yang dibutuhkan untuk memastikan inflasi berada di kisaran 2% dalam jangka menengah," papar Gubernur ECB Mario Draghi dalam konferensi pers usai rapat, mengutip Reuters.

Bursa Saham Asia Dilanda Sell-Off, Ada Apa?Foto: Bank Sentral Eropa (REUTERS/Kai Pfaffenbach)

Lemahnya perekonomian Zona Euro memaksa ECB untuk bersikap dovish (tak agresif). Bank sentral memangkas habis target pertumbuhan ekonomi Zona Euro untuk tahun ini menjadi 1,1%, dari yang sebelumnya 1,7%.

Target pertumbuhan untuk tahun depan juga dipangkas menjadi 1,6%, dari yang sebelumnya 1,7%.

"Kehadiran dari ketidakpastian terkait dengan faktor-faktor geopolitik, ancaman dari proteksionisme, dan kerentanan di negara-negara berkembang nampak telah mempengaruhi sentimen ekonomi [di Zona Euro]," papar Draghi.

Kabar dari Benua Biru ini lantas kian mengonfirmasi sinyal perlambatan ekonomi dunia. Sebelumnya pada Selasa (5/3/2019), Perdana Menteri Li Keqiang dalam pertemuan tahunan parlemen China mengumumkan bahwa target pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2019 dipangkas menjadi ke kisaran 6%-6,5%. Sebelumnya, target pertumbuhan ekonomi tahun 2019 dipatok di kisaran 6,5%.


Jika yang terealisasi nantinya adalah target pertumbuhan ekonomi di batas bawah yakni 6%, maka itu akan menjadi pertumbuhan ekonomi terlemah dalam nyaris 3 dekade. Pada tahun 2018, pertumbuhan ekonomi China tercatat sebesar 6,6%.

Sementara di AS yang merupakan negara dengan perekonomian terbesar di dunia, pada Rabu (6/3/2019) lalu merilis angka penciptaan lapangan kerja (di luar sektor pertanian) periode Februari 2019 versi ADP. Hasilnya yakni sebanyak 183.000, atau level tersebut lebih sedikit dari konsensus yang sebanyak 190.000, seperti dilansir dari Forex Factory.

TIM RISET CNBC INDONESIA

(ank/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading