Kabar Buruk dari Eropa Bikin Wall Street Merana

Market - Muhammad Iqbal, CNBC Indonesia
08 March 2019 06:37
Faktor utama di balik hal itu adalah langkah Bank Sentral Eropa (ECB).
New York, CNBC Indonesia - Indeks-indeks utama Wall Street anjlok pada perdagangan Kamis (7/3/2019) waktu setempat atau Jumat (8/3/2019) pagi WIB. Faktor utama di balik hal itu adalah langkah Bank Sentral Eropa (ECB) memangkas pertumbuhan ekonomi Zona Euro 2019 dan mengumumkan putaran baru stimulus untuk membantu bank-bank di kawasan tersebut.

Semua itu telah memicu kekhawatiran terhadap perekonomian global. Demikian laporan CNBC International seperti dikutip CNBC Indonesia hari ini.

Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup 200,23 poin lebih rendah dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya ke level 25.473,23. Kemudian S&P 500 turun 0,8% menjadi 2.748,93. Sementara Nasdaq Composite anjlok 1,1% ke level 7.421,46. Kerugian keempat secara berturut-turut.




Presiden ECB Mario Draghi mengatakan ECB memproyeksikan ekonomi Zona Euro hanya tumbuh 1,1% pada 2019 atau jauh lebih rendah dibandingkan perkiraan Desember, yaitu 1,7%. ECB juga mengumumkan akan memulai program stimulus jangka panjang (TLTRO-III) pada September 2019 dan direncanakan tuntas Maret 2021.

Apa itu TLTRO? TLTRO merupakan pinjaman yang diberikan ECB kepada bank-bank Eropa pada tingkat suku bunga yang rendah. Hal itu diyakini akan memudahkan bank-bank tersebut meminjamkan uang kepada konsumen yang pada muaranya dapat membantu merangsang perekonomian. Ini adalah suntikan stimulus ketiga dari ECB sejak 2014.

"Ini menambah satu hal: ketidakpastian," ujar Ekonom dari Spartan Capital Securities Peter Cardillo.

Gegara Kabar Buruk dari Eropa, Wall Street Pun Merana Foto: REUTERS/Ralph Orlowski


Pengumuman ECB Hadir di tengah kekhawatiran kemungkinan perlambatan ekonomi di seluruh dunia. Bank Sentral Kanada pada Rabu (6/3/2019) meningkatkan derajat ketidakpastian lantaran belum jelasnya kebijakan suku bunga acuan. Sedangkan pertumbuhan ekonomi Australia sepanjang kuartal IV-2018 hanya 0,2%. Kemudian di AS, Bank Sentral AS (The Fed) telah memberikan sinyal akan "sabar" dalam menaikkan suku bunga acuan.



Dolar AS pun perkasa merespons kabar ECB. Terhadap euro, greenback diperdagangkan 1,1% lebih tinggi pada level 1,1181/dolar AS. Imbal hasil obligasi Pemerintah AS untuk tenor 10 tahun pun turun menjadi 2,63%. Sedangkan untuk tenor 2 tahun merosot menjadi 2,47%. Pergerakan terjadi setelah indeks utama jatuh di sesi perdagangan sebelumnya lantaran investor ingin mengetahui detail negosiasi dagang antara AS dan China.

Data yang dirilis pada Rabu menunjukkan defisit perdagangan AS tetap menjadi masalah. Presiden AS Donald Trump telah memberlakukan serangkaian tarif kepada negara-negara seperti China dalam upaya menekan defisit. Namun, data menunjukkan defisit perdagangan AS mencapai level tertinggi dalam 10 tahun terakhir.

Simak video terkait proyeksi The Fed terhadap perekonomian AS di bawah ini.

[Gambas:Video CNBC]


(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading