Ekonomi AS di Atas Ekspektasi, Bursa Saham Asia Menguat

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
01 March 2019 09:24
Mayoritas bursa saham utama kawasan Asia dibuka di zona hijau pada perdagangan hari ini. Foto: REUTERS/Bobby Yip/File Photo
Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas bursa saham utama kawasan Asia dibuka di zona hijau pada perdagangan awal bulan ini, (1/3/2019). Indeks Nikkei naik 0,49%, indeks Shanghai naik 0,46%, dan indeks Hang Seng naik 0,29%. Sementara itu, indeks Straits Times turun 0,06%.

Untuk bursa saham Korea Selatan, perdagangan hari ini diliburkan guna memperingati Independence Movement Day.

Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang mampu mengalahkan ekspektasi membuat bursa saham Benua Kuning dilirik investor. Kemarin (28/2/2018), pembacaan awal untuk angka pertumbuhan ekonomi AS periode kuartal-IV 2018 diumumkan di level 2,6% (QoQ annualized), jauh lebih tinggi dibandingkan konsensus yang sebesar 2,2%, seperti dilansir dari Forex Factory.



Pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari ekspektasi menunjukkan bahwa dampak dari perang dagang dengan China terhadap perekonomian AS tak separah seperti yang diproyeksikan para ekonom.

Dari kawasan Asia, rilis data ekonomi yang ada juga mendukung. Pada pagi hari ini, Manufacturing PMI China periode Februari 2019 versi Caixin diumumkan di level 49,9.

Sejatinya, angka di bawah 50 menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur mengawali kontraksi jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Namun, kontraksi yang terjadi tak sedalam ekspektasi. Melansir Trading Economics, konsensus untuk data tersebut berada di level 48,5.

Di sisi lain, kinerja bursa saham Benua Kuning dibatasi oleh hasil pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di Vietnam. Pertemuan yang digelar pada tanggal 27 dan 28 Februari tersebut berakhir tanpa adanya kesepakatan apapun.


Padahal, Gedung Putih sebelumnya melaporkan bahwa Trump dan Kim akan menghadiri penandatangan perjanjian bersama kemarin sore waktu setempat.

Dari konferensi pers Trump yang digelar di hotel tempatnya menginap yakni JW Marriott, diketahui bahwa Korea Utara hanya bersedia untuk melakukan denuklirisasi di beberapa area yang dianggap tak begitu signifikan oleh AS. Sebagai gantinya, Korea Utara meminta seluruh sanksi yang telah dibebankan oleh AS untuk dicabut, sebuah hal yang tak bisa dipenuhi AS.

"Terkadang Anda harus meninggalkannya, dan ini hanyalah salah satu dari waktu tersebut. Ada sebuah perbedaan [dengan Korea Utara]," kata Trump dalam konferensi pers, Kamis (28/2/2019).

Dari pihak Korea Utara, Menteri Luar Negeri Ri Yong Ho menyatakan sebenarnya Pyongyang hanya ingin pencabutan sebagian sanksi, terutama yang terkait dengan kehidupan masyarakat dan tidak terkait dengan sanksi militer. Untuk itu, Korea Utara bersedia melucuti fasilitas pengembangan nuklir di Yongbyon, termasuk unit pengembangan plutonium dan uranium.

"Mungkin kita tidak akan mendapat kesempatan seperti ini lagi. Padahal kita butuh langkah awal menuju denuklirisasi yang sepenuhnya. Posisi kami tidak akan berubah, bahkan jika AS kembali mengajak ke meja perundingan, posisi kami tidak akan berubah," papar Ri.

TIM RISET CNBC INDONESIA

Artikel Selanjutnya

Obligasi AS Masih Indikasikan Resesi, Bursa Asia Berguguran


(ank/tas)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading