Kondisi Eksternal Jadi Biang Kerok Pelemahan Rupiah

Market - Iswari Anggit Pramesti, CNBC Indonesia
12 February 2019 10:35
Kondisi Eksternal Jadi Biang Kerok Pelemahan Rupiah
Jakarta, CNBC Indonesia - Dolar AS terus menunjukkan kekuatannya terhadap Rupiah dalam pembukaan trading pekan ini. 1 US$ kini telah mencapai Rp 14.100.

Padahal, penjualan ritel Indonesia Bulan Desember lalu berhasil melampaui target dan tumbuh 7,7%. Hal ini seharusnya menjadi bukti, pasar dan investor memiliki kepercayaan tinggi terhadap perekonomian Indonesia, dan seharusnya Rupiah bisa stabil, bahkan menguat.

Research Analyst FXTM Lukman Otunuga menjelaskan, terdapat beberapa faktor eksternal yang sangat memengaruhi Rupiah dan kondisi ekonomi Indonesia.


"Dolar yang menguat masih terus membebani kurs Rupiah, dan mata uang negara berkembang lainnya. Kombinasi penguatan dolar dan kekhawatiran mengenai perlambatan pertumbuhan global, mungkin menekan Rupiah di jangka pendek, namun Fed yang dovish [bersabar/ tidak agresif menaikkan tingkat suku bunga] seharusnya akan membatasi penurunan [kurs Rupiah]," jelas Lukman, Selasa (12/2/2019).








Lukman juga menjelaskan, jika ingin kepercayaan pasar dan investor tidak hilang, Indonesia harus mampu menunjukkan ketahanan atau kestabilan ekonomi, termasuk kurs atau nilai tukar Rupiah, ekspor dan impor di tengah kondisi ekonomi global yang tidak stabil, dan sebagainya.

"Perhatian investor akan tertuju pada data perdagangan yang dijadwalkan untuk dirilis pada Hari Rabu, yang mungkin memberi informasi tambahan mengenai keadaan ekonomi Indonesia. Data ini akan sangat dicermati untuk melihat pertanda dampak ketegangan dagang terhadap impor dan ekspor Indonesia. Selera terhadap Rupiah dapat meningkat apabila data ekonomi Indonesia terus melampaui prediksi pasar," sambungnya.

Lukman mengingatkan, tenggat waktu yang Indonesia dan mungkin negara berkembang lainnya miliki, untuk terus menjaga kepercayaan pasar dan investor, tinggal sebentar lagi. Hal ini seiring dengan kondisi ekonomi global yang terus bergerak, dan tidak jarang memberi tekanan maupun ketidakpastian.

Seluruh tekanan dan ketidakpastian ini ternyata memiliki andil terhadap ekonomi negara berkembang, termasuk Indonesia.

Misalnya saja perang dagang. Damai dagang 90 hari antara AS dan Cina (Tiongkok) akan berakhir pada 1 Maret 2019 mendatang. Jika telah berakhir, keduanya harus segera menentukan langkah ke depan, apakah akan berdamai dan mengakhiri perang dagang dengan sejumlah kesepakatan, atau kembali melanjutkan perang dagang ketika tidak mencapai negosiasi yang baik.

"Apabila kesepakatan tidak berhasil tercapai, maka tarif yang diberlakukan AS terhadap barang Tiongkok saat ini dapat ditingkatkan hingga lebih dari dua kali lipat."

Selain perang dagang, masih ada sentimen BREXIT dan Inggris yang akan segera keluar dari Uni Eropa, belum lagi AS yang akan merilis statistik inflasi negaranya dalam waktu dekat ini, yang mampu memengaruhi kebijakan The Fed, serta sederet peristiwa besar lainnya yang juga berpengaruh pada kondisi ekonomi global.

Pertanyaannya, mampukah ekonomi Indonesia bertahan?










(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading