Duh, IHSG Harus Rela Tinggalkan Level 6.400

Market - Anthony Kevin & tahir saleh, CNBC Indonesia
16 January 2019 15:09
Duh, IHSG Harus Rela Tinggalkan Level 6.400
Jakarta, CNBC Indonesia - Sempat menunjukkan performa yang menggembirakan, kini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuat pelaku pasar kecewa. Per akhir sesi 1, IHSG menguat 0,19% ke level 6.420,9. Padahal pada saat itu, mayoritas bursa saham utama kawasan Asia diperdagangkan melemah.

Pada pukul 14:47 WIB, IHSG melemah sebesar 0,22% ke level 6.394,57. IHSG lantas meninggalkan level psikologis 6.400 yang kemarin dilewati untuk kali pertama sejak Maret 2018.

Sejumlah sentimen negatif memang membayangi laju bursa saham regional. Pertama, kondisi politik di Inggris yang kian runyam. Pada dini hari tadi, proposal Brexit yang diusung pemerintahan Perdana Menteri Theresa May ditolak oleh parlemen dengan hasil 432 berbanding 202. Ini adalah kekalahan pemerintah terbesar dalam sejarah Inggris modern.


Menanggapi hasil tersebut, pimpinan Partai Buruh Jeremy Corbyn kemudian mengajukan pelaksanaan pemungutan suara atas mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan May. Pemungutan suara akan dilakukan pada hari ini.

Sentimen negatif yang kedua datang dari komentar Gubernur European Central Bank (ECB) Mario Draghi. Berbicara di hadapan Parlemen Eropa, Draghi mengatakan bahwa perekonomian zona euro telah secara mengagetkan melemah seiring dengan tekanan yang berasal dari luar blok mata uang euro tersebut, seperti perlambatan ekonomi China.

Terakhir, sentimen negatif datang seiring dengan kisruh terkait dengan penutupan sebagian pemerintahan AS (partial government shutdown). Hingga kini, terhitung sudah 25 hari pemerintahan AS berjalan dengan pincang, menjadikannya yang terpanjang di era modern.

Shutdown kali ini terjadi lantaran partai Republik dan Demokrat tak mampu menyepakati anggaran belanja negara, seiring dengan adanya ketidaksepahaman mengenai anggaran untuk pembangunan infrastruktur perbatasan AS-Meksiko.

Pemerintahan Presiden Donald Trump kini memproyeksikan bahwa kerugian akibat shutdown adalah dua kali lebih besar dari yang diekspektasikan sebelumnya, menurut seorang sumber dari kalangan pemerintahan yang tak ingin disebutkan namanya, seperti dikutip dari CNBC International.

Pada awalnya, pemerintah memproyeksikan bahwa shutdown akan memangkas pertumbuhan ekonomi sebesar 0,1% setiap 2 minggu. Kini, diproyeksikan bahwa setiap minggunya shutdown akan membuat pertumbuhan ekonomi terpangkas sebesar 0,1%.

Perubahan ini terjadi lantaran pemerintah memperhitungkan kerugian dari kontraktor yang tak bisa melakukan bisnis dengan pemerintah, serta macetnya anggaran belanja dan fungsi-fungsi pemerintahan.

TIM RISET CNBC INDONESIA (ank)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading