Tahun Pemilu, Rata-rata IHSG Naik 55,98%

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
05 January 2019 20:00
Ini dihitung berdasarkan kinerja IHSG selama empat pemilu terakhir pasca reformasi.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pelaku pasar modal tampaknya bisa bersiap-siap mendapatkan cuan besar dari pasar saham tahun ini. Pasalnya jika mengikuti pola atau kecenderungan yang terjadi dalam setiap tahun penyelenggaraan pemilu kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan melesat.

Bisa jadi ini buka pola baku, tetapi paling tidak statistik menunjukkan pada saat pemilu rata-rata IHSG bisa naik 55,98%. Ini dihitung berdasarkan kinerja IHSG selama empat pemilu terakhir pasca reformasi.

Pada 1999, pemilu pertama setelah era orde baru jatuh IHSG tercatat menguat 70,06%. Dimana pada saat penutupan 1998, IHSG berada pada level 398,04 dan ditututup pada 1999 pada level 676,92.

Berikutnya pada 2004, penguatan IHSG mencapai 44,56%. Dari level 691,89 pada saat petupan perdagangan 2003 ke level 1.000,23 saat penutupan 2004.


Lalu pada 2009, kinerja IHSG juga tercatat memukai dengan naik 86,98%. Pada penutupan peradagangan 2008, IHSG tercatat berada pada level 1.355,41 dan ditutup pada pada 2009 pada level 2.534,36.

Dan pada pemilu terakhir 2014 lalu, kinerja IHSG juga tercatat memukau dimana terjadi penguatan 22,29%. Pada akhir 2013 IHSG tercatat ditutup pada level 4.274,18 ke level 5.226,95 pada akhir 2014.

Tahun PemiluIHSG Sebelum Tahun PemiluIHSG Tahun PemiluPerubahan
1999398.04676.9270.06%
2004691.891,000.2344.56%
20091,355.412,534.3686.98%
20144,274.185,226.9522.29%
Rata-rata55.98%
Median57.31%
Sumber: BEI

Dilihat dari kecenderungan tersebut, kita boleh optimistis bahwa IHSG bisa mencatatkan kinerja positif. Namun semua itu tergantung dari hasil Pemilihan Umum (Pemilu).

Dari empat pemilu sebelumnya, selalu menghasilkan presiden terpilih yang bisa diterima oleh pasar. Hal yang sama kemungkinan bisa terjadi tahun ini.

Namun besaran kenaikan IHSG diperkirakan sulit untuk mencapai angka rata-rata. Pasalnya, faktor eksternal masih menjadi perhatian utama investor dalam menentukan keputusan investasi.

Pada awal tahun saja, perbincangan perlambatan pertumbuhan ekonomi global mulai mencuat. Amerika Serikat (AS) dan China, dua kekuatan ekonomi dunia yang masih bertikai soal perang dagang, menghadapi risiko terbesar perlambatan ekonomi tersebut.

Risiko perlambatan ekonomi juga mungkin terjadi dengan Eropa yang saat ini masih bergejolak dengan perserkutuan Uni Eropa yang mulai retak. Inggris yang sudah menyatakan akan keluar dari blok ekonomi ini, sesungguhnya punya keraguan yang besar untuk keluar karena ada risiko pertumbuhan ekonomi semakin melambat.

Menghadapi kenyataan tersebut, Bank Sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) sedikit mulai melunak. Sikap agresifnya menaikkan suku bunga mulai menjadi bumerang bagi ekonomi AS.

Namun jika kenyataannya inflasi di AS memang sulit dikendalikan, bukan tidak mungkin sikap yang mulai dovish tersebut kembali lagi menjadi hawkish.

Nah, itulah sejumlah tantangan eksternal yang mungkin akan dihadapi IHSG tahun ini. Disamping gejolak harga komoditas yang punya pengaruh cukup besar juga terhadap pasar saham domestik.

Sementara itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) IHSG selama tahun politik ini akan menampilkan kinerja positif. Acuannya sama, karena melihat hitorikal pergerakan IHSG di tahun politik yang mengalami penguatan.

Direktur Utama BEI Inarno Djajadi menyampaikan sikap optimistisnya memasuki tahun politik, faktor eksterna lah yang justru tantangan menjadi terbesar yang tak bisa dihindari.

"Tahun depan kalau saya lihat kita cukup oke karena memang dalam beberapa Pemilu juga tidak teralu signifikan. Dari segi transaksi saham dari pemilu di 2014, 2009 dan 2004 itu kan trennya positif semua. Jadi kalau menurut saya trennya tetap oke," kata Inarno kepada CNBC Indonesia, Kamis (27/12).

[Gambas:Video CNBC]
(hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading