Rupiah Dipukul Mundur, IHSG Tak Bisa Manfaatkan Momentum

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
17 December 2018 09:35
Rupiah Dipukul Mundur, IHSG Tak Bisa Manfaatkan Momentum
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan pertama di pekan ini dengan melemah tipis 0,1% ke level 6.163,63. Pada pukul 9:26 WIB, IHSG melemah 0,22% ke level 6.156,09.

Pergerakan IHSG berbanding terbalik dengan mayoritas bursa saham utama kawasan Asia yang ditransaksikan menguat: indeks Nikkei naik 0,57%, indeks Strait Times naik 1,26%, dan indeks Kospi naik 0,13%.

Pelaku pasar mengapresiasi perkembangan perang dagang AS-China yang kian positif saja. Kementerian Keuangan China pada hari Jumat (14/12/2018) mengumumkan bahwa bea masuk tambahan yang dibebankan bagi mobil-mobil pabrikan AS akan dihapuskan selama 3 bulan, terhitung mulai 1 Januari 2019.


Sebagai informasi, pada tahun ini China sejatinya telah memangkas bea masuk bagi mobil-mobil yang diimpor disana menjadi 15%, dari yang sebelumnya 25%. Namun, sebagai balasan dari pengenaan bea masuk oleh AS, China memberikan tambahan bea masuk sebesar 25% bagi mobil-mobil pabrikan AS sehingga totalnya menjadi 40%. Saat ini, AS mengenakan bea masuk sebesar 27,5% saja bagi mobil-mobil pabrikan China.

Sejauh ini, data ekonomi dari kedua negara, terutama China, sudah menunjukkan tanda-tanda perlambatan, yang salah satunya disebabkan oleh perang dagang. Jika perang dagang bisa segera diselesaikan sepenuhnya, laju perekonomian AS, China, dan dunia bisa dipacu untuk melaju lebih kencang.

Hal ini pada akhirnya membuat investor berani untuk melakukan aksi beli atas instrumen berisiko seperti saham.

Namun sayang, pelemahan rupiah membuat IHSG belum bisa memanfaatkan momentum yang ada. Hingga berita ini diturunkan, rupiah melemah 0,24% di pasar spot ke level Rp 14.615/dolar AS.

Mencuatnya persepsi terkait kenaikan suku bunga acuan pada bulan ini oleh The Fed sukses memukul mundur rupiah. Mengutip situs resmi CME Group yang merupakan pengelola bursa derivatif terkemuka di dunia, berdasarkan harga kontrak Fed Fund futures per 16 Desember, probabilitas kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps pada bulan ini adalah 76,6%, naik dari posisi per 14 Desember yang sebesar 75,8%.

Positifnya rilis data ekonomi di AS membuat investor kian yakin bahwa rencana normalisasi pada bulan ini akan dieksekusi oleh The Fed. Pada hari Jumat, penjualan barang-barang ritel diumumkan tumbuh sebesar 0,2% MoM, mengalahkan konsensus yang sebesar 0,1% MoM, seperti dilansir dari Forex Factory.

Selain itu, pelaku pasar juga memasang mode defensif dengan melepas rupiah sembari menantikan rilis data perdagangan internasional Indonesia periode November pada pukul 11:00 WIB.

TIM RISET CNBC INDONESIA (ank/ank)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading