Sepekan Ini, Rupiah Jadi yang Terbaik ke-2 se-Asia Pasifik

Market - Yazid Muamar, CNBC Indonesia
08 December 2018 20:00
Sepekan Ini, Rupiah Jadi yang Terbaik ke-2 se-Asia Pasifik Foto: Aristya Rahadian Krisabella
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mampu menguat pada perdagangan awal pekan Desember ini. Prestasi rupiah cukup membanggakan karena berada di urutan ke-2 mata uang se Asia Pasifik ditengah penguatan greenback.

Pada Jumat (7/12/2018), US$ 1 sama dengan Rp 14.465 kala penutupan pasar spot. Rupiah menguat 0,34% dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya. Rupiah sepekan lalu juga mengalami penguatan, bahkan menjadi yang terbaik di Asia dengan menguat 1,62%.

Kinerjanya pekan ini masih menggembirakan, mayoritas mata uang Asia Pasifik mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Berfokus pada mata uang utama, hanya ada tiga mata uang yang  menguat, yaitu Rupe India, Peso Filipina, dan Won korea Selatan.

Berikut perkembangan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama Asia Pasifik hingga akhir pekan:



Sebenarnya dolar AS sedang menemukan kembali kekuatannya. Hingga penutupan pasar spot pukul 16.00 WIB, Jumat (7/12/2018) kemarin, Dollar Index, yang mencerminkan posisi greenback terhadap 6 mata uang utama dunia, menguat 0,03%.

Sentimen negatif bagi dolar AS berasal dari The Federal Reserve/The Fed yang kebijakannya terlihat dovish. Wall Street Journal melaporkan bahwa The Fed sedang mempertimbangkan untuk memberikan sinyal wait-and-see terkait kenaikan suku bunga acuannya.


Dari sejumlah data ekonomi AS yang dirilis kemarin, nyaris semuanya meleset dari ekspektasi pasar. Penciptaan lapangan kerja non-pertanian di AS versi ADP diumumkan hanya sebanyak 179.000 pada bulan November, jauh di bawah konsensus Reuters yang sebanyak 195.000.

Klaim tunjangan yang di ajukan pengangguran warga AS sebenarnya sedang turun, sebanyak 4.000 orang menjadi 231.000 orang. Meskipun demikian, jumlahnya masih lebih rendah dibandingkan konsensus analis yang dihimpun Reuters yang meramalkan angka 225.000 orang.

Namun, akhir pekan ini, dolar AS berbalik arah ke zona hijau. Sebagian investor nampak khawatir terhadap risiko resesi perekonomian di Amerika Serikat (AS).

Sejak Senin, yield obligasi AS bertenor tiga tahun naik melebihi surat utang dengan jangka waktu lima tahun. Ini menggambarkan perkiraan investor bahwa akan ada risiko yang lebih tinggi terhadap perekonomian dalam jangka pendek dibandingkan jangka panjang.

Data Refinitiv menunjukkan inverted yield kali pertama terjadi pada perdagangan tanggal 4 Desember 2018. Pada akhir perdagangan hari itu, spread yield obligasi AS tenor 3 dan 5 tahun hanya sebesar 2 bps.

Pada perdagangan hari Jumat (7/12/2018), spread yield obligasi AS tenor 3 dan 5 tahun kembali menjadi 2 bps setelah kemarin sempat melebar menjadi 3 bps.

Sementara itu, spread yield obligasi 3 bulan dan 10 tahun yang dianggap pasar lebih tepat meramalkan resesi belum mengalami inversi namun telah menipis menjadi 47 bps hari Jumat dari 82 bps di awal November, menurut data Refinitiv.

Tiga resesi terakhir yang terjadi di AS (1990, 2001, dan 2007), menunjukkan selalu terjadi inversi pada spread yield obligasi tenor 3 dan 5 tahun rata-rata 26,3 bulan jelang perlambatan ekonomi itu benar-benar terjadi, dilansir dari CNBC International yang mengutip Bespoke.



TIM RISET CNBC INDONESIA



(yam/dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading