Ini Hitungan Pertumbuhan Ekonomi RI versi Sri Mulyani

Market - Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
01 November 2018 08:32
Ini Hitungan Pertumbuhan Ekonomi RI versi Sri Mulyani
Jakarta, CNBC Indonesia - Untuk kesekian kalinya, konsumsi rumah tangga masih akan menjadi pendongkrak utama pertumbuhan ekonomi tahun depan, mengingat kinerja ekspor yang diproyeksikan bakal melesu.

Hal tersebut dikemukakan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat konferensi pers Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 di kantor pusat Direktorat Jenderal Pajak.



"Konsumsi rumah tangga [tahun depan] akan tumbuh di atas 5,1%," kata Sri Mulyani, Rabu (31/10/2018).


Dalam APBN 2019, pemerintah memang mematok angka pertumbuhan di 5,3%. Adapun kontribusi konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah diklaim bisa berada di atas 5% yakni masing-masing 5,1% dan 5,4%.

Sementara itu, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi sepanjang 2019 diperkirakan bisa tumbuh sekitar 7%. Sebuah angka yang cukup optimis di tahun politik.

Namun, Sri Mulyani paham betul ketegangan perang dagang sejumlah negara akan memberikan pengaruh terhadap volume perdagangan global. Permintaan ekspor ke Indonesia, tentu akan terpengaruh.

Ini Hitungan Pertumbuhan Ekonomi RI versi Sri MulyaniFoto: Infografis/APBN di Tahun Politik Jokowi/Arie Pratama
"Ekspor [domestik] ada sedikit pelemahan sejalan dengan prediksi sekitar 6,3%,"

Meski demikian, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu cukup optimistis geliat impor tahun depan bisa jauh lebih dikendalikan seiring dengan berbagai upaya yang sudah dikeluarkan pemerintah.

"Impor dengan adanya upaya pengendalian CAD akan menurun 7,1%," kata Sri Mulyani.


Jamin Konsumsi Tak Berada di Bawah 5%

Struktur ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun ke belakang memang tak berubah. Konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu pendorong utama geliat ekonomi nasional.

Artinya, apabila konsumsi rumah tangga lesu, ekonomi Indonesia akan terkena dampak buruk. Bukan tidak mungkin, realisasi pertumbuhan ekonomi tahun depan tak mencapai target untuk kesekian kalinya.

Namun, pemerintah menjamin bahwa konsumsi tidak akan turun dari angka 5,1%. Bendahara negara cukup optimistis, rangkaian kegiatan di tahun politik memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan konsumsi.



"Pemilu kami rasa akan berdampak pada konsumsi," kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal Suahasil Nazara dalam kesempatan yang sama.

Tak hanya itu, triliunan dana yang siap digelontorkan baik dari pusat maupun daerah pun akan memberikan dampak positif bagi konsumsi. Misalnya, belanja subsidi, belanja sosial, sampai dengan kenaikan gaji PNS tahun depan.

"Gaji ini bukan hanya dari pusat tapi juga daerah. Ini kami harapkan bisa mendorong konsumsi tahun depan," tegas dia. (prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading