Perang Dagang AS-China Buat IHSG Nangkring di Zona Merah

Anthony Kevin, CNBC Indonesia
30 October 2018 10:10
Hingga berita ini diturunkan, IHSG melemah 0,01% ke level 5.753,99.
Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Jakarta, CNBC Indonesia - Dibuka naik tipis 0,01% dan sempat menguat hingga 0,32%, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kini justru terjebak di zona merah. Hingga berita ini diturunkan, IHSG melemah 0,01% ke level 5.753,99.

Pergerakan IHSG senada dengan mayoritas bursa saham utama kawasan Asia yang juga terkoreksi: indeks Hang Seng turun 0,59%, indeks Strait Times turun 0,56%, dan indeks Kospi turun 0,14%.

Perkembangan perang dagang AS-China yang kurang sedap memang membawa risiko yang besar bagi kinerja IHSG pada hari ini. Kabar terbaru, AS siap menerapkan bea masuk baru kepada produk-produk China apabila pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping tidak membuahkan hasil. Sebelumnya, Penasihat Ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow sudah mengonfirmasi bahwa keduanya akan melakukan pembicaraan di sela-sela KTT G20 di Buenos Aires (Argentina) pada bulan depan.

Mengutip Reuters, sumber di lingkaran Gedung Putih mengungkapkan Washington sudah menyiapkan bea masuk baru sebagai skenario terburuk. Kemungkinan pengenaan bea masuk itu adalah untuk importasi produk-produk made in China senilai US$ 257 miliar seperti yang sering dikemukakan Trump.

Memang, terhitung sejak Kudlow mengonfirmasi pertemuan Trump-Xi beberapa waktu yang lalu, pelaku pasar tak menunjukkan respon yang positif. Terdapat sikap spektis dari investor mengingat beberapa pertemuan antara delegasi AS dan China yang sebelumnya sudah diselenggarakan tak mampu menyelesaikan perang dagang yang tengah berkecamuk.



Sebagai catatan, hingga kini AS telah mengenakan bea masuk bagi importasi produk asal China senilai US$ 250 miliar. Sejauh ini, perekonomian kedua negara, terutama China, terlihat sudah mulai tersakiti oleh kebijakan tersebut.

Teranyar, Biro Statistik Nasional China mencatat pertumbuhan laba industrial naik 4,1% secara tahunan pada September 2018 menjadi CNY 545,5 miliar. Laju pertumbuhan tersebut tidak sampai separuh dari pencapaian bulan sebelumnya dan menjadi yang paling lambat sejak Maret 2018.

Dari dalam negeri, investor nampak cemas menantikan pengumuman realisasi investasi langsung kuartal III-2018. Pada kuartal-II 2018, investasi hanya tumbuh 3,1% YoY, bahkan Penanaman Modal Asing (PMA) terkontraksi hingga 12,9% YoY. Selama era pemerintahan Joko Widodo (Jokowi), baru kali ini PMA tercatat menurun secara tahunan.


TIM RISET CNBC INDONESIA


(dru) Next Article Bursa RI Merah Padam! Tenang...Asing Tetap Borong Saham

Tags

Related Articles
Recommendation
Most Popular