Sempat Menguat Sepanjang Hari, Pasar Obligasi Berakhir Turun

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
11 October 2018 18:34
Sempat Menguat Sepanjang Hari, Pasar Obligasi Berakhir Turun
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi rupiah pemerintah berbalik melemah pada akhir perdagangan hari ini, setelah hampir sepanjang hari menguat. Koreksi telah membuat tingkat imbal hasil (yield) seri acuan 20 tahun naik dan kembali menembus batas psikologis 9%. 

Merujuk data Reuters, koreksi harga surat berharga negara (SBN) itu tercermin dari pergerakan empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus mengangkat tingkat imbal hasilnya (yield). Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder. 

Yield juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka. 


Keempat seri yang menjadi acuan itu adalah FR0063 bertenor 5 tahun, FR0064 bertenor 10 tahun, FR0065 bertenor 15 tahun, dan FR0075 bertenor 30 tahun. 

Seri acuan yang paling melemah adalah seri 10 tahun, dengan kenaikan yield 1,8 basis poin (bps) menjadi 8,77%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.  

Seri acuan lain juga terkoreksi yaitu seri 5 tahun dan 20 tahun, dengan kenaikan yield 0,5 bps dan 1,5 bps menjadi 8,33% menjadi 9%.  

Yield Obligasi Negara Acuan 11 Oct 2018
SeriBenchmarkYield 10 Okt 2018 (%) Yield 11 Oct 2018 (%)Selisih (basis poin)
FR0063 5 tahun8,3288,3330,50
FR0064 10 tahun8,5968,588-0,80
FR0065 15 tahun8,7578,7751,80
FR0075 20 tahun8,9879,0021,50
Avg movement0,75
Sumber: Reuters 

Hampir sepanjang hari, seluruh seri menguat meskipun dalam jumlah yang terbatas.  

Penguatan ditengarai disebabkan oleh mulai mengendurnya sentimen negatif dari kenaikan yield obligasi Amerika Serikat (AS) semalam akibat koreksi di pasar saham Negeri Paman Trump. 

Naiknya harga di awal perdagangan itu juga berkebalikan dengan nilai tukar rupiah dan pasar saham yang justru amblas terkena sentimen negatif pelaku pasar ekuitas global menyikapi koreksi pasar saham AS. 

Baru menjelang penutupan, pasar berbalik arah sehingga hampir seluruh seri acuan justru melemah. Koreksi pasar obligasi pemerintah hari ini juga tercermin pada harga obligasi wajarnya, yang tercermin oleh turunnya indeks INDOBeX Government Total Return milik PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI/IBPA).

Indeks tersebut turun 0,92 poin (0,41%) menjadi 225,31 dari posisi kemarin 226,226,24.
  Koreksi  SBN hari ini juga membuat selisih(spread) obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun dengan surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor serupa mencapai 541 bps, melebar dari posisi kemarin 533 bps.  

Yield US Treasury 10 tahun kembali ke 3,17% setelah hampir secara berurutan naik sejak 2 Oktober. Penguatan yield UST tersebut turut mencerminkan koreksi harga yang cukup dalam. 

Spread yang melebar, ditambah faktor turunnya yield US Treasury, seharusnya dapat membuat investor global menilai perlu menyeimbangkan (rebalancing) portofolionya dalam jangka pendek. 

Rebalancing tersebut membuat investasi di pasar SBN rupiah menjadi sedikit lebih menarik karena lebih murah dibandingkan dengan sebelumnya. 

Terkait dengan porsi investor di pasar SBN, saat ini investor asing menggenggam Rp 847,37 triliun SBN rupiah, 36,87% dari total beredar Rp 2.298 triliun.

Angka itu sudah turun Rp 3,47 triliun dari posisi akhir September.
 Pelemahan di pasar surat utang hari ini juga terjadi di pasar ekuitas dan pasar nilai tukar mata uang.  

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 2,02% hingga 5.702 pada penutupan tadi sore. Nilai tukar rupiah melemah 0,21% menjadi Rp 25.230 di hadapan setiap dolar AS. Pelemahan rupiah tidak sejalan dengan posisi dolar AS jika berhadapan dengan mata uang negara lain, yang justru turun -0,39% 95,13.  

TIM RISET CNBC INDONESIA (irv/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading