Produksi AS dan OPEC Naik, Harga Minyak Loyo di Awal Pekan

Market - Raditya Hanung, CNBC Indonesia
03 September 2018 11:17
Harga minyak jenis brent kontrak pengiriman November 2018 melemah 0,40% ke level US$77,34/barel
Jakarta, CNBC IndonesiaHarga minyak jenis brent kontrak pengiriman November 2018 melemah 0,40% ke level US$77,34/barel, sementara harga minyak light sweet kontrak Oktober 2018 juga terkoreksi sebesar 0,33% ke US$69,57/barel, hingga pukul 10.45 WIB hari ini.

Dengan pergerakan itu, harga minyak kompak melemah secara 2 hari berturut-turut, sejak akhir pekan lalu.  Pada penutupan perdagangan hari Jumat (31/08/2018), harga light sweet yang menjadi acuan di Amerika Serikat (AS) terkoreksi 0,64%, sementara harga brent yang menjadi acuan di Eropa juga turun 0,45%.

Penyebab lesunya harga sang emas hitam di awal pekan adalah meningkatnya pasokan dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan AS. Sentimen ini terbukti mampu mengalahkan kekhawatiran investor terhadap jatuhnya produksi dari Iran.




Sepanjang pekan lalu, harga minyak sebenarnya masih mampu menguat di kisaran 2%. Harga komoditas ini ditopang oleh investor yang masih mengkhawatirkan sanksi AS terhadap Iran, yang mana akan menargetkan industri perminyakan Negeri Persia per November 2018.

Akibat tekanan dari Negeri Paman Sam tersebut, banyak pembeli minyak mentah dari Iran mulai mengurangi pemesanannya. Meski Teheran sudah memberikan diskon lumayan besar, total volume minyak mentah (termasuk kondensat) yang diekspor Iran diestimasikan hanya sekitar 64 juta barel, atau 2,06 juta barel/hari, pada bulan ini.

Jumlah itu turun lumayan signifikan dari puncaknya di April 2018, yakni sebesar 92,8 juta barel atau 3,09 juta barel/hari.Meski demikian, pada awal pekan ini harga minyak mendapatkan sentimen negatif dari peningkatan produksi OPEC yang mencapai 220.000 barel/hari ke angka 32,79 juta barel/hari pada periode Juli-Agustus, berdasarkan survei dari Reuters.

Dengan capaian tersebut, produksi kartel minyak itu sudah mencapai volume tertingginya di tahun 2018 ini. Peningkatan itu disumbang oleh pulihnya produksi minyak di Libya, serta ekspor Irak Selatan yang menyentuh rekor tertingginya.

Sementara itu, aktivitas pengeboran minyak di AS kembali menggeliat, setelah jumlah sumur pengeboran aktif bertambah sebanyak 2 unit ke angka 862 unit pada pekan lalu, mengutip data dari Baker Hughes. Bertambahnya jumlah sumur pengeboran itu menjadi yang pertama kalinya dalam 3 pekan terakhir.

Sebagai informasi, jumlah sumur pengeboran aktif yang tinggi telah membantu produksi minyak mentah AS naik lebih dari 30% sejak pertengahan 2016, ke angka 11 juta barel/hari. 
Artikel Selanjutnya

Angin Panas Datang di Pertemuan PBB, Harga Minyak Setop Reli


(RHG/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading